Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

****AKAL DAN ILMU MENGETAHUI ADALAH KARUNIA ALLAH MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS****

Written By Ummu Marwah on Senin, 09 April 2012 | 00.09

Oleh Ummu Marwah 5 Agustus 2011










بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِي


1.ILMU BAGI SEORANG MUSLIM ADALAH KEWAJIBAN DAN KEMULIAAN.



Seorang muslim menyakini bahwa memelihara akal dengan ilmu dan mengunakannya untuk mengetahui karunia ALLAH di alam semesta ini merupakan kewajiban,berdasarkan sabda Rasulullah: “MENUTUT ILMU WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM” [HR.SHAHIH -IBNU MAJAH]

Maka wajib baginya untuk senantiasa memelihara akalnya dengan ilmu dan pengetahuan,tidak boleh berhenti selama nafas kehidupan masih berhembus di dalam dadanya,dan detak jantungnya masih memompa darah sampai ke urat nadinya.

Dan cukup bagi seorang muslim untuk mendorongnya menuntut ilmu bahwa ALLAH mengangkat derajat para ulama,ALLAH mengkhususkan mereka dengan rasa takut dan ketakwaan dan kemuliaan.Hal ini khusus bagi mereka,dan tidak dimiliki oleh orang lain.

ALLAH berfirman:”SESUNGGUHNYA YANG TAKUT KEPADA ALLAH DIANTARA HAMBA-HAMBA-NYA,HANYALAH ULAMA.” {QS.FATHIR:28}

Maka tidak takut dengan sebenar-benarnya kecuali orang yang pikirannya terang,dan tampak bagi mereka keagungan dan kekuasaan ALLAH dalam menciptakan alam semesta,kehidupan dan makhluk hidup.Mereka itu adalah para ULAMA.

Kemudian ALLAH mengutamakan mereka atas selain para ulama dengan firman-Nya:”KATAKANLAH:”ADAKAH SAMA ORANG-ORANG YANG MENGETAHUI DAN TIDAK MENGETAHUI?” SESUNGGUHNYA ORANG YANG BERAKAL LAH YANG DAPAT MENERIMA PELAJARAN.” {QS.AZ-ZUMAR: 9}

Shafwan bin Assal Al Muradi mendatangi Nabi ketika beliau sedang di masjid,ia berkata kepada beliau:”Wahai Rasulullah,sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu,maka beliau berkata:”SELAMAT DATANG BAGI PENUNTUT ILMU,SESUNGGUHNYA PENUNTUT ILMU DINAUNGI MALAIKAT DENGAN SAYAP-SAYAPNYA,KEMUDIAN MEREKA MENAIKI SATU SAMA YANG LAIN SEHINGGA MEREKA SAMPAI KE LANGIT DUNIA KARENA KECINTAAN MEREKA KEPADA APA YANG DITUNTUT.” [HR.SHAHIH-AHMAD,THABRANI,IBNU HIBBAN DAN HAKIM]



Banyak sekali nash-nash yang menunjukkan keutamaan ilmu dan menganjurkan untuk menuntut ilmu,oleh karena itu seorang muslim sejati adalah pribadi yang pandai atau yang menuntut ilmu dan mengamalkannya dengan baik dan benar.

2. BERKESINAMBUNGAN MENUNTUT ILMU SAMPAI MATI.



Belajar yang benar,adalah bukan untuk mendapatkan ijazah yang tinggi,yang bisa memberikan pendapatan harta yang banyak dan menjamin kehidupan yang mapan,kemudian tidak lagi belajar atau membaca atau menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan,akan tetapi belajar yang benar adalah terus menerus membaca,dan setiap hari bertambah ilmunya,sebagaimana firman ALLAH:”DAN KATAKANLAH:”YA TUHANKU,TAMBAHKANLAH KEPADAKU ILMU KEPADAKU.” {QS.THAHA:114}

Para ULAMA terdahulu walaupun mereka sudah mencapai kedudukan tinggi dalam ilmu dan pengetahuan,mereka tidak berhenti belajar dan menambah ilmu hingga akhir hayatnya.Mereka melihat bahwa ilmu itu hidup dan berkembang apabila terus menerus belajar,serta layu dan kering apabila berhenti belajar.Mereka mempunyai pribahasa indah yang menunjukkan penghargaan dan penghormatan mereka terhadap ilmu,semangat dalam belajar,dan terus-menerus menimba ilmu dari sumbernya yang murni.

Diantara pribahasa indah tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Ibnu Abi Ghassan berkata:”ENGKAU SENANTIASA PANDAI SELAMA MENUNTUT ILMU,KALAU DIRIMU MERASA CUKUP,MAKA ENGKAU MENJADI BODOH.”

Imam Malik berkata:”Tidak sepantasnya orang yang punya ilmu meninggalkan belajar.”

Dikatakan oleh Imam Abdullah bin Mubarak:”Sampai kapan anda menuntut ilmu?”…Beliau berkata:”Hingga mati, mungkin kata-kata yang bermanfaat bagiku yang belum ku tulis.” Kata beliau.

Imam Abul Amr bin Al Ala’ ditanya:” Sampai kapan seseorang pantas menuntut ilmu?...Beliau berkata :” Selama ia masih layak untuk hidup.”

Alangkah indahnya jawaban Imam Sufyan bin Uyainah ketika dikatakan padanya:” Siapa orang yang paling pandai,” ditanyanya :”mengapa?”…..beliau berkata:”Karena kesalahan darinya, berakibat lebih buruk.”

Imam Fakhruddin Ar Razi seorang tafsir besar,yang punya banyak karangan.Beliau satu-satunya Imam dalam ilmu kalam,dan ilmu-ilmu lainnya pada masanya.Beliau meninggal tahun 606. Dan ALLAH telah memberinya ketenaran dan nama besar,sehingga para ULAMA dari berbagai penjuru mengerumuninya,di setiap Negara yang dikunjunginya atau setiap kota yang dimasuki oleh beliau.Ketika Imam ini sampai ke Marwa,banyak Ulama dan penuntut ilmu yang berdatangan untuk belajar kepada beliau,dan merasa bangga menjadi muridnya.

Diantara kumpulan penuntut ilmu yang hadir di majelisnya ada seorang murid yang pandai tentang ilmu Nasab,belum sampai berumur dua puluh tahun.Tatkala Imam Fakhruddin Ar Razi mengetahui penguasaan murid tersebut terhadap ilmu Nasab,dan Imam Fakhruddin Ar Razi tidak menguasainya,beliau meminta muridnya tersebut untuk mengajarinya,dan beliau mendudukkannya ditempat duduk seorang guru,sedangkan beliau duduk di depannya,maka ini menjadi pertanda kerendahan hati yang menambah ketenaran Imam Fakhruddin Ar Razi.Dan hal inti ini ,tidak mengurangi sedikit pun dari kedudukannya yang agung,pada hal beliau adalah Imam besar pada masanya.

Kejadian langka ini diriwayatkan oleh ahli sejarah dan ahli sastra Yaqut Al Hamawi dalam bukunya “Mu’jam al Udaba” dalam biografi Azizuddin Isma’il bin Al Hasan Al Marwazi Al Husaini ahli Nasab.

Yakut sempat bertemu dan bergaul dengan beliau,serta menulis biografinya dengan lengkap.Beliau berkata dalam biografinya,Azizuddin bercerita kepadaku,ia berkata:”Imam Fakhruddin Ar Razi datang ke Marwa,beliau sangat dihormati dan disegani,namanya terkenal,sehingga tidak ada yang berani membantah kata-katanya,dan tidak ada yang berkutik di hadapannya karena hormat padanya.

Sebagaimana beliau dikenal,maka aku masuk menemui beliau,dan aku sering belajar padanya.

Suatu hari beliau berkata kepada padaku:”Aku suka kalau engkau menulis buku kecil tentang Nasab Thalibiyiin untuk aku pelajari,aku suka kalau aku tidak mengerti masalah Nasab,aku berkata kepadanya:” Apakah engkau ingin aku buatkan seperti pohon atau berbentuk essai?”…Beliau berkata:”Yang seperti pohon sulit dihafal,padahal aku ingin sesuatu yang bisa dihafal,” aku berkata:Benar, aku lakukan.

Maka aku pergi dan menulis buku untuknya dan aku beri nama “AL FAKHRI”, lalu aku bawa kepada beliau. Setelah beliau memperhatikan,beliau turun dari tempat duduknya,dan duduk di atas tikar,beliau berkata kepadaku:”duduklah di atas tempat dudukku,” namun aku merasa segan,dan aku katakan padanya: “Aku pembantumu,maka beliau menghardikku,dan marah kepadaku,serta berkata: “Duduklah di atas tempat yang aku perintahkan padamu,” Akhirnya,aku terpaksa duduk ditempat yang beliau perintahkan,kemudian beliau mulai membaca buku tersebut di hadapanku,beliau bertanya kepadaku tentang hal-hal yang tidak dipahami sampai beliau selesai membaca,setelah selesai membaca,beliau berkata padaku: Duduklah di tempat mana yang engkau suka,karena ini adalah ilmu dan engkau guruku dalam hal ini.Beliau berkata aku mendapat ilmu dan belajar padamu,dan tidak etis bagi murid kecuali duduk di hadapan gurunya,[kata Imam Fakhruddin Ar Razi].

Maka kemudian aku bangun dari tempatku,lalu beliau duduk ditempat biasanya,kemudian aku belajar kepada beliau dengan duduk di hadapannya sebagaimana sedia kala.”

Setelah memuat cerita ini,Yaqut berkata:” Sungguh ini adalah adab yang sangat baik,terutama dari bagi orang yang derajatnya tinggi.”Alangkah menyenangkannya ilmu di hati para ulama,dan alangkah agungnya di hati mereka,serta alangkah muliannya di mata mereka,alangkah perlunya orang sekarang mencontoh ulama terdahulu seperti beliau.

3. YANG PERLU DIKUASAI OLEH SEORANG MUSLIM.



Ilmu pertama yang harus dikuasai oleh seorang muslim adalah AL-QUR’AN,baik membaca,tajwid dan tafsirnya,kemudian menguasai ilmu-ilmu hadits,sejarah Nabi, dan sejarah hidup para shabat dan tabi’in,belajar fiqh yang ia perlukan untuk menegakkan ibadah dan mu’amalahnya,dan mengetahui agamanya atas dasar yang lurus.Ini apabila bidangnya bukan ilmu agama. Adapun apabila bidang agama,maka seyogianya ia harus menguasai bidangnya,dan kalau perlu,ia menguasai bahasa Arab.



4. MENGUASAI BIDANGNYA.



Kemudian setelah seorang muslim memperhatikan bidangnya ia mengarakan segenap kemampuannya dan memberikan semua perhatiannya,serta bersungguh-sungguh seperti layaknya seorang muslim yang menyakini bahwa pekerjaannya dalam bidangnya adalah suatu kewajiban.Baik dalam bidang agama,atau bidang umum,seperti matematika,fisika,kimia,teknik,astronomi,kedokteran,perindustrian,perdagangan dan lain sebagainya.

Dari sini wajib baginya untuk bersungguh-sungguh menguasai ilmu dalam bidangnya.Ia tidak segan-segan mengoleksi semua apa yang ditulis tentang spesialisainya dalam berbagai bahasa kalau memungkinkan,dan senantiasa mengikuti perkembangan baru dalam ilmu tersebut dengan terus-menerus mempelajari dan membaca dalam berbagai segi.

Dalam hal ini seorang muslim sejati pada masa sekarang adalah orang yang mencetak sukses yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan,sehingga ia semakin dihormati dan disegani,dan mengangkatnya ke tingkat kemuliaan dan kehormatan.

Dengan itu pula dakwahnya ikut terangkat ke tingkat kedudukannya,selama ia disertai dengan ikhlas,serius dan sungguh-sungguh.Dan selama itu pula ia bertitik tolak dari roh yang dipancarkan oleh Islam dalam suasana ilmu,dimana Islam menjadikannya sebagai sesuatu kewajiban,dimana seseorang mendekatkan diri dengannya kepada ALLAH,dan menjadikan ilmu sebagai sarana mendapat ridha ALLAH.Oleh karena itu kita dapatkan ulama terdahulu dalam mukadima buku mereka selalu mendukung makna yang tinggi ini.

Hal ini karena tujuan mereka menghabiskan umur untuk menyebarkan ilmu semata karena mencari ridha ALLAH.Mereka mempersembahkan buah usaha mereka murni untuk ALLAH.



5. BERWAWASAN LUAS.



Seorang muslim yang sadar dan cerdas tidak hanya merasa puas dengan bidangnya,akan tetapi ia membuka wawasan akal dan fikirannya.Ia membaca berbagai macam buku dan majalah-majalah ilmu pengetahuan,sastra,budaya dan dalam berbagai macam ilmu dan seni yang bermanfaat.Terutama yang mendekati dengan bidangnya,ia mengambil berbagai macam warna ilmu pengetahuan untuk mengiatkan otaknya dan memperluas wawasannya dan menumbuhkan bakatnya.

6. MENGUASAI BAHASA ASING.



Ia tidak lupa mempunyai perhatian terhadap sebagian bahasa asing,karena bahasa asing pada masa sekarang termasuk suatu keharusan bagi intelektual muslim yang sadar,giat dan cerdas,serta memahami tuntunan kehidupan Islam modern.

Seorang muslim sadar menjadi ajaran agamanya yang agung sebagai motivasi untuk menguasai bahasa asing: Hal ini karena Nabi menyuruh mempelajari bahasa asing sejak lima belas abad yang lalu,agar umat Islam bisa berkomunikasi dengan berbagai umat dan jenis manusia dan mengajak kepada kebenaran yang dibebankan oleh ALLAH untuk disampaikan kepada segenap alam semesta.

Hal ini bisa kita lihat pada hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa Nabi berkata: “WAHAI ZAID PELAJARI UNTUKKU SURAT ORANG YAHUDI,KARENA AKU MERASA TIDAK PERCAYA KEPADA ORANG YAHUDI ATAS SURATKU,” ZAID BERKATA:”MAKA AKU MEMPELAJARINYA,TIDAK LEBIH SETENGAH BULAN AKU SUDAH MENGUASAINYA,MAKA AKU MENULISKAN SURAT UNTUK RASULULLAH APABILA BELIAU INGIN BERKIRIM SURAT KEPADA MEREKA,DAN MEMBACA SURAT-SURAT MEREKA APABILA MEREKA KIRIM SURAT KEPADA BELIAU,DALAM RIWAYAT LAIN, RASULULLAH BERKATA PADAKU:” APAKAH ENGKAU MENGUASAI BAHASA SURYANI?....KARENA AKU MENERIMA SURAT-SURAT (BAHASA SURYANI), AKU MENJAWAB:” TIDAK, MAKA BELIAU BERKATA:”PELAJARILAH,” MAKA AKU PUN MEMPELAJARINYA. [HR.SHAHIH TIRMIDZI]

Dari sini Abdullah bin Zubair menguasai beberapa bahasa,namun bahasa tersebut tidak menyibukkannya dari agama dan akhiratnya. Beliau mempunyai seratus budak,masing-masing budak berbicara kepada masing-masing mereka dengan bahasanya.Kalau anda melihat padanya dalam masalah dunia,anda akan mengatakan:”Orang ini tidak menginginkan ALLAH sama sekali,dan apabila anda melihatnya dalam masalah akhiratnya,anda akan mengatakan:”Orang ini tidak menginginkan dunia sama sekali.” [HR.SHAHIH HAKIM DAN ABU NU’AIM]

Seorang muslim di zaman sekarang lebih dituntut untuk menguasai bahasa asing,dibandingkan dengan zaman dahulu,agar bisa hidup di masanya dan mengerti sisi positif dan negative dalam hal yang berhubungan dengan kebudayaan umatnya. Karena Agama yang ditulis dalam bahasa asing,menjadi benteng yang melindunginya dari kejahatan dan lisannya yang amanat dan mendatangkan kebaikan.

====================================

♥ღϠ₡ღ♥ Semoggah bermanfaat dalam meningkatkan iman dan takwa.....wabillahi taufik wal hidayah,,Dan selamat menjalankan ibadah puasa,,,Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barakaatuh.....Salam Ukhuwah.♥ღϠ₡ღ♥

0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami