Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

*** SEORANG MUSLIM DENGAN ANAK-ANAKNYA MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS [PART. II] ***

Written By Ummu Marwah on Senin, 09 April 2012 | 05.50

Oleh Ummu Marwah 1 Desember 2011






 بِسْـــــــــــــــــــــ ـمِ اﷲِارَّتْمَنِ ارَّتِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
  
Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ

فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
[QS. AT-TAGHABUN : 14 ].


** TIDAK MEMBEDAKAN ANTARA ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KASIH SAYANG **

Sebagian orang merasa kesal kepada anak perempuan, dan berangan-angan kalau seandainya ALLAH tidak memberikannya kecuali anak laki-laki. Mereka tidak tahu pahala yang besar yang disediakan oleh ALLAH untuk orang tua yang diberi rezeki anak perempuan, lalu ia sabar atas mereka dan mendidiknya dengan baik, serta memberikan kasih sayang kepadanya. Kalau seandainya mereka tahu pahala yang menunggu seorang bapak yang mempunyai anak perempuan yang (dididik menjadi ) baik, yang merawat dan mengasihinya, niscaya ia merasa iri, dan mendambakan bagi dirinya agar mendapat hal yang sama.

RASULULLAH bersabda:
"BARANGSIAPA YANG MEMPUNYAI TIGA ANAK PEREMPUAN,LALU IA SABAR DALAM MERAWATNYA, MEMBERI MAKAN DAN MINUM SERTA PAKAIAN KEPADANYA DARI HASIL JERIH PAYAHNYA, MAKA MEREKA MENJADI PENGHALANG BAGINYA DARI NERAKA PADA HARI KIAMAT."
[HR. AHMAD].

Dalam riwayat lain:
"BARANGSIAPA YANG MEMPUNYAI TIGA ANAK PEREMPUAN YANG DIRAWAT, DIPENUHI KEBUTUHANNYA, DAN MENYAYANGINYA, MAKA TELAH WAJIB BAGINYA SURGA."

LALU SEORANG WANITA BERTANYA:
"DAN (BAGAIMANAKAH) DUA (ORANG ANAK WANITA) WAHAI RASULULLAH?"

BELIAU BERSABDA:
"DAN (JUGA) DUA."

Maka bapak yang mana yang menolak mendidik anak-anak perempuan, dan memberi nafkah kepada mereka, setelah mendengar pahala dan kenikmatan yang disediakan oleh ALLAH baginya?

Islam mengatur masalah ini, sebab ia adalah agama kehidupan yang memberi solusi kehidupan nyata manusia dan problem mereka di setiap masa dan tempat, bahwa kandangkala anak perempuan diceraikan dan kembali ke rumah orang tuanya, dan terkadang bapakanya miskin dan papa, karena penghasilannya sedikit, atau banyak anaknya, maka Islam memberikan balasan yang mengobati luka hatinya yang susah, dan menyingkapkan kegundahan, kelelahan, dan ketersiksaan dengan menjelaskan kepada  orang tua ini bahwa memberi nafkah pada putrinya yang dikembalikan padanya, termasuk sedekah terbesar, dan terbaik untuk mendekatkan diri kepada ALLAH.

Rasulullah berkata kepada Suraqah bin Ju’syum:
"MAUKAH AKU TUNJUKKAN KEPADAMU SEDEKAH YANG PALING AGUNG, ATAU YANG TERMASUK SEDEKAH YANG PALING AGUNG?"

IA BERKATA: "MAU. Wahai RASULULLAH."

Beliau  berkata: "PUTRIMU DIKEMBALIKAN KEPADAMU, TIDAK ADA YANG MENANGGUNG NAFKAHNYA KECUALI ENGKAU."
[HR. BUKHARI ].

 
Bandingkan antara kasih sayang yang diperoleh anak-anak dalam dunia Islam dengan kehidupan keras yang dihadapi anak-anak di barat, di mana pada saat anak berumur delapan belas tahun, baik laki-laki mau pun perempuan, ia harus keluar dari rumah kedua orang tuanya, untuk menghadapai kehidupan materialistis yang keras, dan terjun ke dunia kerja, padahal ia belum benar-benar mampu berdiri sendiri, dan belum cukup mendapat kasih sayang dari keluarga.

Itu adalah perbedaan yang jauh antara ajaran ALLAH yang datang untuk memberikan kebahagiaan bagi manusia, dan aturan manusia yang tidak lengkap yang menyebabkan kesengsaraan manusia.
Tidak heran bila kita dapatkan di barat akibat ajaran matreialistis ini, banyak anak-anak muda yang terlantar, dan kawanan ibu-ibu yang tidak menikah, yang sengsara dan terlantar. Di mana jumlah mereka semakin hari semakin bertambah.

** WASPADA TERHADAP APA YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN MEREKA **

Orang tua Muslim yang sadar, selalu waspada terhadap anak-anaknya. Ia mengetahui teman-teman yang selalu bersama mereka, atau yang paling sering menghabiskan waktu dengan mereka, atau yang paling sering menghabiskan waktu dengan mereka. Ia tahu tempat-tempat yang di datangi anak-anaknya di waktu-waktu lowong. Ia tahu itu semua, tanpa mereka menyadari pengawasannya terhadap mereka. Apabila ia mendapatkan ada pelanggaran dari mereka dalam bacaan, hobby, atau berhubungan dengan teman-teman yang tidak baik, atau mendatangi tempat-tempat yang tidak baik, dan melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk dan berbahaya; seperti merokok, atau melakukan permainan-permainan yang makruh atau haram yang menyia-nyiakan waktu dan membuang-buang energi sehingga permainan dan hal-hal yang tidak berguna menguasai alam pikiran dan tindakan mereka. Oleh karena itu ia mengembalikan ke jalan yang lurus dengan bijaksana dan tegas, dan meluruskan mereka kepada kebenaran dengan pemahaman yang menyakinkan.

Hal ini, karena setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya YAHUDI, NASRANI, ATAU MAJUSI. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari. Dari sini tanpa tanggung jawab kedua orang tua dalam mengisi otak anak, dan membentuk kepribadiannya, dengan mendidik dirinya dengan memperhatikan faktor-faktor pendidikan yang baik, sehingga dapat  berpengaruh terhadap mereka itu. Buku yang dibaca anak-anak, hendaknya membuka otak mereka, membentuk jiwa mereka untuk berakhlak mulia.

Membekali kepribadian mereka dengan keteladanan, tidak membunuh akal dan merusak fitrah mereka, serta memadamkan tunas-tunas kebaikan yang ada dalam diri mereka. Hobby seharusnya menumbuhkan sisi-sisi  kebaikan dalam diri mereka, bukan sisi-sisi buruk. Menyalakan api kebenaran dalam hati mereka, dan bukan api keburukan.

Mendidik mereka pada selera yang baik, bukan selera yang buruk. Teman pergaulan seharusnya mengarahkannya ke surga bukan ke neraka, menunjukkan kepada kebenaran bukan kepada kebatilan. Membawa ke jalan yang lurus, serta  peningkatan, kesuksesan dan kebaikan. Bukan kesesatan, penurunan, kegagalan, dan kedurhakaan. Berapa banyak teman yang menarik teman-temannya kepada hal-hal yang buruk dan kehinaan, sementaara orang tua lalai terhadap anak-anaknya. Alangkah bijaknya perkataan seorang penyair ADY BIN ZAID AL IBADI tentang teman:
"Apabila anda berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan yang baik. Dan janganlah berteman dengan yang buruk sehingga anda jatuh bersama orang-orang yang jatuh. Janganlah anda menanyakan seseorang akan tetapi tanyalah teman-temannya, karena setiap teman mengikuti temannya."
[Lihat kitab Diwah Ady : 107].

Demikianlah, maka mata orang tua Muslim yang sadar selalu waspada dalam mendidik anaknya, baik melalui buku, majalah, teman, hobi, sekolah, guru-guru, dan media masa. Dan setiap pengaruh pada pembentukan kepribadian anaknya, dan pendidikan akal, jiwa dan akidah mereka.


Bila diperlukan ia turun tangan secara positif; baik langsung maupun tidak langsung , agar proses pendidikan anak-anaknya tidak terganggu, atau terkena kendala, penyakit dan cacat. Dari sini kita bisa menafsirkan kesuksesan sebagian keluarga dalam mendidik anak-anaknya, dan kegagalan sebagian yang lain. Maka yang pertama merasa bertangung jawab atas anak-anaknya, lalu mencurahkan perhatian terhadapnya, sehingga menjadi kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan manusia secara umum. Sedangkan yang kedua, tidak merasa bertangung jawab, lalu melalaikan mereka, sehingga menjadi keburukan bagi keluarga, masyarakat dan manusia secara umum, sehingga menjadi musibah yang selalu menyertainya dalam kehidupan ini dan setelah mati.

SUNGGUH, MAHA BENAR ALLAH YANG MAHA AGUNG YANG TELAH BERFIRMAN:

إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ

".. SESUNGGUHNYA DI ANTARA ISTRI-ISTRIMU DAN ANAK-ANAKMU ADA YANG MENJADI MUSUH BAGIMU, MAKA BERHATI-HATILAH KAMU TERHADAP MEREKA.."
[QS. AT-TAGHABUN : 14 ].

Anak-anak tidak mungkin menjadi musuh bagi orang tua mereka, kalau seandainya orang tua berada di jalan yang lurus, dan mengetahui tanggung jawab mereka terhadap anak-anak dan mereka melakukan hal-hal yang diperlukan dengan sebaik-baiknya.

** PERLAKUKANLAH MEREKA SECARA ADIL **

 Di antara metode pendidikan yang bijaksana adalah memperlakukan anak-anak secara adil di antara mereka, dan tidak melebihkan salah satu dari mereka dalam segala hal. Hal ini karena anak yang merasa diperlakukan secara sama dan adil antara dia dan saudara-saudaranya akan menumbuhkan jiwa yang sehat, terlepas dari perasaan kurang, tidak dengki pada saudara-saudaranya, dan hatinya tidak dihinggapi rasa cemburu dan hasut. Bahkan dalam jiwanya akan memancar sifat menerima, toleran, tenggang rasa, dan cinta kepada orang lain. Hal inilah yang dianjurkan oleh ISLAM, dan kedua orang tua diperintahkan untuk bersikap demikian.

Iman Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An Nu’man bin Basyir:
"BAHWASANYA BAPAKNYA MEMBAWANYA KEPADA RASULULLAH, IA BERKATA:
'SESUNGGUNYA AKU TELAH MEMBERIKAN BUDAKKU KEPADA ANAKKU INI.' 

RASULULLAH BERKATA:
'APAKAH SEMUA ANAKMU ENGKAU BERIKAN SEPERTI ITU?'

IA BERKATA: 'TIDAK.' 

MAKA RASULULLAH BERKATA:
'AMBIL KEMBALI'."

Dan dalam riwayat lain dikatakan:
RASULULLAH BERSABDA:
"APAKAH ENGKAU LAKUKAN INI UNTUK SEMUA ANAK-ANAKMU?"

IA BERKATA: "TIDAK."

BELIAU BERSABDA:
"BERTAKWALAH KEPADA ALLAH DAN BERBUAT ADILLAH KEPADA ANAK-ANAKMU."

MAKA BAPAKKU MENARIK KEMBALI SEDEKAH TERSEBUT.

Dalam riwayat yang lain lagi:
MAKA RASULULLAH BERSABDA:
"WAHAI BASYR, APAKAH ENGKAU MEMPUNYAI ANAK SELAIN INI?"

IA BERKATA:
"YA."

BELIAU BERKATA:
"APAKAH SEMUANYA ENGKAU BERIKAN SEPERTI INI?"

IA BERKATA:
"TIDAK." 

BELIAU BERKATA:
"KALAU BEGITU, JANGAN ENGKAU MEMINTA KESAKSIAN ATAS PERBUATAN ZALIM."

KEMUDIAN BELIAU BERKATA:
"APAKAH ENGKAU SENANG BILA MEREKA SEMUA SAMA DALAM BERBAKTI KEPADAMU?"

IA BERKATA:
"BENAR."

BELIAU BERKATA:
"KALAU DEMIKIAN, JANGAN (KAMU LAKUKAN HAL ITU)."   
[MUTTAFAQ ‘ALAIHI].

Dari sini, maka seorang Muslim yang takwa berbuat adil terhadap anak-anaknya, tidak melebihkan salah satu dari yang lain dalam pemberian, nafkah, atau perlakuan. Dengan demikian lisan mereka semua mendoakannya, dan hati mereka mencintainya, dan jiwa mereka berbakti serta menghormatinya.

** MENANAMKAN PADA MEREKA AKHLAK YANG TINGGI **


Dengan jiwa yang dipenuhi dengan keceriaan, ridha, qana’ah, dan bakti, seorang bapak bisa meningkatkan kepribadian anaknya sampai tingkatan keteladanan yang baik, dan kedudukan yang tinggi. Ia menanamkan pada mereka akhlak yang tinggi, seperti mencintai orang lain, sayang terhadap orang lemah, menyambung hubungan keluarga, menghormati yang lebih tua, sayang kepada yang lebih kecil, suka berbuat baik, dan senang menebarkan keadilan di antara manusia, serta  akhlak-akhlak mulia yang lain. Hal ini karena kebaikan tidak keluar; kecuali dari jiwa-jiwa yang kenyang dengan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Al Adab al Mufrad, karangan Imam Bukhari:
"KEBAIKAN DARI ALLAH, DAN ADAB DARI ORANG TUA."

Orang tua Muslim yang cerdas mengetahui cara menembus jiwa anak-anaknya dan menanamkan hikmah serta akhlak yang lurus kepadanya, dengan mengunakan metode pendidikan yang bijaksana, seperti keteladanan yang baik dan disenangi, bergaul dengan baik, penuh kasih sayang yang ikhlas, tawadhu, menampakan muka berseri ,cinta, perhatian, dorongan, lembut tanpa harus bersikap lemah, keras tanpa kasar (tegas). Dengan demikian anak-anak tumbuh dalam suasana yang baik, perhatian dan kasih sayang. Suasana seperti ini dapat menghasilkan anak-anak yang berbakti, setia, saleh dan berkepribadian baik. Cerdas dan mampu berbuat baik untuk orang lain, sehingga ia siap memikul tanggung jawab yang di embankan oleh Agama. Hal ini adalah wajar dalam keluarga yang terdidik atas prinsip-prinsip ISLAM dan berEtika dengan Etika AL-QUR’AN.

MAHA BENAR ALLAH DENGAN FIRMAN-NYA:

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ

"SHIBGHAH ALLAH. DAN SIAPAKAH YANG LEBIH BAIK SHIBGHAHNYA DARI PADA ALLAH?"      
[QS.AL-BAQARAH: 138 ].

 وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
♥ღϠ₡ღ♥ Semogah bermanfaat dalam meningkatkan iman dan takwa,....wabillahi taufik wal hidayah,,,.....Salam Ukhuwah.♥ღϠ₡ღ♥
 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami