Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

SEBAB-SEBAB TERJADINYA KESESATAN DALAM TAKDIR MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS

Written By Ummu Marwah on Senin, 09 April 2012 | 02.23

Oleh Ummu Marwah 11 September 2011







Sebab kesesatan aliran yang terjadi pada Qadariyah yang menafikan (takdir)dan Jabbariah menafikan perbuatan manusia,adalah karena dua aliran ini masing-masing memandang kebenaran dari satu sisi dan mengenyampingkan sisi yang lain.Mereka ibaratnya seperti orang buta yang melihat sesuatu dari satu sisi,tanpa melihat dari sisi yang lainnya.


Qadariyah berpendapat:Bahwa ALLAH tidak menginginkan dan mencintai serta merestui kekafiran dan kemaksiatan.Maka,bagaimana Dia menciptakan perbuatan hamba, yang di dalamnya terdapat kekafiran dan dosa juga kemaksiatan?”



Jabbariyah beriman bahwa ALLAH menciptakan segala sesuatu dan beranggapan bahwa segala sesuatu yang Dia ciptakan dan wujudkan pasti Dia senangi dan ridhai.


Sementara Ahlus Sunnah wal Jama’ah melihat kebenaran dari berbagai sudut pandang.Mereka mengimani kebenaran yang terdapat pada setiap aliran dan menafikan kebatilan yang membuat kedua aliran bingung dan linglung.
Ahlussunnah berkata: “sesungguhnya meskipun ALLAH menghendaki terjadinya kemaksiatan karena sudah keputusan takdir, namun dia tidak menyukai dan meridhai kemaksiatan tersebut serta tidak memerintahkannya, bahkan membeci dan melarangnya.”




Ini adalah pendapat seluruh ulama salaf, mereka berkata :”apa yang ALLAH inginkan, maka terjadilah, dan apa yang dia tidak inginkan, maka tidak akan terjadi.”


Oleh karena itu para ulama fiqh (fuqoha) berkata: “orang yang sumpah, jika ia berkata : demi ALLAH, saya akan melakukan perbuatan ini jika ALLAH menghendaki, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika tidak melakukan perbuatan tersebut, meskipun perbuatan tersebut hukumnya wajib atau sunnah. Tetapi jika ia berkata : “jika ALLAH mencintainya.” Maka ia melanggar sumpah, apabila perbuatan itu wajib atau sunnah.


Para ulama dari ahlus sunnah mengatakan :

kehendak dalam kitab  ALLAH terdapat dua macam :

Pertama , iradah qadariyah kauniyyah (kehendak takdir yang bersifat alami)
Kedua , iradah syar’iyyah (kehendak syariat)


Iradah syar’iyyah ialah yang mengandung makna cinta dan ridha. Sedangkan iradah kauniyyah adalah kehendak yang mencakupsemua di jagad raya.
Contoh Iradah Syar’iyyah adalah firman ALLAH:

“ALLAH MENGHENDAKI UNTUK KALIAN KEMUDAHAN,DAN TIDAK MENGHENDAKI UNTUK KALIAN KESULITAN.”  [QS.AL-BAQARAH :185 ]

Dan firman-Nya yang lain:

”DAN ALLAH TIDAK MENGHENDAKI ATAS KALIAN SUATU KESULITAN,AKAN TETAPI MENGINGINKAN UNTUK MEMBERSIHKAN KALIAN DAN MENYEMPURNAKAN ATAS KALIAN NIKMAT-NYA.”  
[QS.AL-MAIDAH:6]




ALLAH berfirman:

”ALLAH MENGINGINKAN UNTUK MENJELASKAN KEPADA KALIAN SUNNAH-SUNNAH [JALAN-JALAN]ORANG-ORANG SEBELUM KALIAN,DAN ALLAH MENERIMA TOBAT KALIAN,DAN ALLAH MAHA MENGETAHUI DAN MAHA BIJAKSANA.DAN ALLAH HENDAK MENERIMA TOBATMU SEDANG ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI HAWA NAFSUNYA BERMAKSUD SUPAYA KAMU BERPALING SEJAUH-JAUHNYA [DARI KEBENARAN].ALLAH HENDAK MEMBERIKAN KERINGANAN KEPADAMU,DAN MANUSIA DIJADIKAN BERSIFAT LEMAH.” 
[QS.AN-NISA: 26-28]






Dalam firman-Nya juga:

SESUNGGUHNYA ALLAH BERKEHENDAK UNTUK MENGHILANGKAN DARIMU DOSA,WAHAI AHLUL BAIT DAN MEMBERSIHKAN KALIAN DENGAN SEBERSIH-BERSIHNYA.” 
[QS.AL-AHZAB: 33]


Kehendak seperti ini tidak harus terwujud,kecuali jika kehendak ini ada kaitanya dengan kehendak kedua. Kehendak ini menunjukkan dengan jelas bahwa ALLAH ta’ala tidak menginginkan dosa,kemaksiatan,kesesatan dan kekafiran.Tidak memerintah dan meridhainya,meskipun Dia menghendaki penciptaan dan perwujudannya. ALLAH mencintai apa yang berkaitan dengan kehendak Syar’iyyah Diniyyah,kemudian memberikan pahala kepada pelakunya,memasukkannya ke dalam surge dan menolongnya dalam kehidupan dunia dan akhirat.Kehendak ini mencakup segala macam ketaatan,yang telah terjadi maupun belum terjadi. [Dalam kitab Syarh Ath-Thahaawiyah :166 dan Majmu ‘Fatawa : VIII/198]




Iradah Kauniyyah adalah kehendak yang mencakup seluruh yang ada dijagad raya.Bisa disebut dengan ungkapan:” Apa yang dikehendaki ALLAH,maka terjadi,dan apa yang tidak dikehendaki ALLAH,maka terjadi,dan apa yang tidak dikehendaki-Nya,maka tidak terjadi.””



Kehendak ini seperti dalam firman-Nya 1 ):

”MAKA BARANGSIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH UNTUK TIDAK MEMBERIKAN HIDAYAH,MAKA HATINYA DILAPANGKAN UNTUK MENERIMA ISLAM,DAN SIAPA YANG DIKEHENDAKI-NYA UNTUK SESAT,MAKA ALLAH MENJADINYA SESAK DAN SEMPIT.” 
[QS.AL- AN’AM :125]


Firman-Nya 2 ):

”DAN TIDAKLAH BERMANFAAT KEPADAMU NASEHATKU JIKA AKU HENDAK MEMBERIKAN NASEHAT KEPADAMU,SEKIRANYA ALLAH HENDAK MENYESATKAN KAMU.”  [QS.HUD : 34]
Firman-Nya 3 ):

”KALAULAH ALLAH BERKEHENDAK,MAKA MEREKA TIDAK BERPERANG,AKAN TETAPI ALLAH BERKEHEDAK SESUAI DENGAN YANG DIINGINKAN.”  [QS.AL-BAQARAH :253 ]

Firman-Nya 4 ):

”DAN MENGAPA KAMU TIDAK MENGUCAPKAN TATKALA MEMASUKI KEBUNMU “MAASYAA ALLAH LAA QUWWATA ILLAA BILAAH [SUNGGUH ATAS KEHENDAK ALLAH SEMUA INI TERWUJUD,TIADA KEKUATAN KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH].”   [QS.AL-KAHFI : 39]

Kehendak ini adalah kehendak yang mencakup semua yang terdapat dalam jagad raya ini, dan tidak ada yang keluar darinya. Setiap kejadian alam termasuk dalam kehendak ALLAH.Dan ini berlaku bagi orang yang beriman,kafir, orang yang baik,berdosa,ahli surga ,ahli neraka,kekasih ALLAH dan musuh-musuh-Nya,orang yang taat kepada ALLAH yang dicintai dan mencintai-Nya yang selalu dido’akan oleh para malaikat-Nya,ahli maksiat yang dibenci dan dilaknat-Nya dan yang dilaknat orang-orang yang melaknat.
Kehendak ini mencakup apa yang telah terjadi yang berupa ketaatan dan kemaksiatan yang belum terjadi dari ketaatan dan kemaksiatan [Dijelaskan dalam kitab, Majmu’ Fatawa, VII/198].


:::::::::                      :::::::::


SEMUA MAKHLUK YANG BERKAITAN DENGAN KEDUA KEHENDAK INI TERBAGI MENJADI EMPAT BAGIAN:

PERTAMA:
sesuatu yang berkait dengan kedua kehendak ini, berupa perbuatan baik yang terjadi dalam kenyataan. Karena Allah menghendakinya sesuai dengan kehendak Sya’iyyah dan Diniyyah. Oleh itu, Allah memerintahkan, mencintai dan meridahinya. Allah memerintahkannya, mencintai dan meridaihnya. Allah pun menghendakinya dengan kehendak kauniyyah-Nya. Oleh karena itu ia terjadi, kalau tidak, pasti tidak akan terjadi

KEDUA:
sesuatuh yang berkait dengan Iradah Diniyyah saja. Yaitu amal-amal shaleh diperintahkan Allah, yang orang-orang kafir bermaksiat kepadanya. Itu semua, iradah diniyyah, yang Allah cintai dan ridhai, dapat terjadi atau tidak terjadi.

KETIGA:
sesuatu yang berkait dengan kehendak Kauniyyah saja. Yaitu apa yang ditakdirkan Allah dan dikehendaki-Nya dari hal-hal yang tidak diperintahkan seperti hal yang mubah dan kemaksiatan, Sesungguhnya Ia tidak memerintah, tidak meridaih, dan tidak mencintainya. Karena Allah tidak memerintahkan perbuatan yang keji dan tidak meridaih kekafiran dari hamba-Nya. Kalaulah tidak kehendak, kekuasaan dan pencipta-Nya niscaya ia tidak akan terwujud dan terjadi. Karena apa yang dikehedaki-Nya, pasti terjadi, dan tidak dikehendakinya, tidak akan terjadi.

KEEMPAT:
sesuatu yang tidak berkait dengan kedua kehendak di atas. Sesuatu ini adalah apa yang tidak terjadi dan tidak terwujud dari hal-hal yang mubah dan kemaksiatan-kemaksiatan.


Hambah Allah yang bahagia adalah hamba yang dikehendaki Allah sesuai dengan keputusan takdir dan sesuai dengan kehendak-Nya secara syari’at. Hamba yang celaka adalah hamba yang dikehendaki Allah sesuai keputusan takdir yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya secara sya’riat.

Ulama’ Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang paham agama Allah dengan benar dan tidak membenturkan satu ayat dengan ayat yang lain, mengetahui bahwa keputusan Allah pada mahkluk-Nya berjalan sesuai dengan dua kehendak (iradah) di atas.


Siapa yang melihat perbuatan yang lahir dari manusia dengan kaca mata pemahaman ini, maka ia orang yang melihat dengan kebenaran. Sedangkan siapa yang melihat syariat saja, tanpa melihat takdir, atau melihat takdir tanpa syari’at, maka ia buta, mereka seperti orang Quarisy yang mengatakan:
ALLAH berfirman:

”KALAULAH ALLAH BERKEHENDAK,MAKA KAMI DAN BAPAK-BAPAK KAMI TIDAK AKAN MENYEKUTUKAN-NYA DAN KAMI TIDAK MENGHARAMKAN SEGALA SESUATU,DEMIKIAN PULALAH ORANG-ORANG YANG SEBELUM MEREKA TELAH MENDUSTAKAN [PARA RASUL]SAMPAI MEREKA MERASA SIKSAAN KAMI,KATAKANLAH: “ADAKAH KAMU MEMPUNYAI PENGETAHUAN SEHINGGA KAMU DAPAT MENGEMUKKAKAN KEPADA KAMI?”…KAMU TIDAK MENGIKUTI KECUALI PERASANGKA BELAKA,DAN KAMU TIDAK LAIN HANYA BERPERASANGKA.”  [QS.AL-AN’AM : 148]



:::::::::           ::::::::::


**BERDALIH DENGAN TAKDIR**

Mereka berdalih dengan takdir ketika meninggalkan perbutan. Maka kita dapatkan bahwa seorang dari mereka ketika di panggil untuk melakukan shalat,puasa,membaca Al-Qur’an ia menjawab : Jika ALLAH menghendaki saya untuk melakukan itu semua,maka saya akan lakukan.” Mereka juga berdalih dengan takdir ketika mereka berbuat zalim,kerusakan dan kemungkaran.Ketika melihat kezaliman dan kerusakan (yang mereka lakukan),mereka berkata:”INI SEMUA KEHENDAK DAN KEINGINAN ALLAH,TIDAK ADA YANG MENCEGAH KAMI UNTUK BERBUAT ITU SEMUA.”


Keyakinan ini pada akhirnya menjadikan mereka membiarkan kebatilan berkembang luas di tengah masyarakat ISLAM.Kita dapat melihat bahwa kelompok manusia ini tunduk kepada orang-orang yang zallim,dan bahkan bisa menjadi pembantu para pelaku kezaliman. Kita mungkin akan melihat mereka berpidato kepada manusia dengan berkata :Wahai manusia,tidak ada jalan bagi kalian kecuali bersabar atas kehendak dan takdir ALLAH.” Kita lihat juga sebagian dari mereka melakukan dosa-dosa besar,mengerjakan yang munkar,seperti berzina,kefasikan,kemaksiatan,lalu mereka berdalih dengan takdir atas perbuatan-perbuatan tersebut.


Ketika mereka berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah argument,ini justru membuat pemikir mereka jadi bahan tertawaan,menjatuhkan mereka pada posisi yang menyulitkan dan tidak mendapat jalan keluar. Ibnu Qayim  menyebutkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada mereka yang dapat mengakibatkan orang tersebut lebih rendah dari binatang. Di antara peristiwa ini adalah terdapat seorang pemikir dari mereka,suatu saat melihat budak laki-lakinya berbuat zina dengan budak perempuannya,ketika ia menghukumnya,budak laki-laki yang mengetahui keyakinan tuannya itu,kemudian berkata:”KETENTUAN DAN TAKDIR ALLAH MEMBIARKAN KAMI BERBUAT SEMACAM INI.” MAKA PEMIKIR YANG BODOH ITU ITU BERKATA KEPADANYA,SUNGGUH PENGETAHUANMU TENTANG KETENTUAN TAKDIR ALLAH LEBIH SAYA CINTAI DARI PADA SEGALA SESUATU,MAKA KARENA ITU KAMI BEBAS DARI ALLAH.”


Ada lagi yang lain dari pemikir mereka yang berpendapat seorang laki-laki berzina dengan istrinya,kemudian ia menghadap sang istri untuk memukulnya,maka istrinya berkata:”INI SUDAH KETENTUAN DAN TAKDIR ALLAH.” MAKA IA BERKATA:”WAHAI WANITA MUSUH,APAKAH KAMU BERBUAT ZINA KEMUDIAN MINTA MAAF DENGAN ALASAN INI?”…..ISTRINYA MENJAWAB:”DUHAI,KINI ENGKAU TELAH MENINGGALKAN SUNNAH DAN MENGAMBIL MADZAB IBNU ABBAS.”…MAKA IA PUN KEMUDIAN SADAR,LALU MELEMPAR PECUT DARI TANGANNYA KEMUDIAN MEMAAFKAN ISTRINYA,SAMBIL BERKATA:”KALAU BUKAN KARENAMU,MAKA AKU AKAN TERSESAT.”

SEORANG DARI MEREKA MELIHAT SEORANG LAKI-LAKI BERBUAT ZINA DENGAN ISTRINYA,KEMUDIAN IA BERKATA:”APA-APAAN INI?!” …..MAKA SANG ISTRI BERKATA: “KETENTUAN DAN TAKDIR ALLAH. MAKA IA BERKATA: KEBAIKAN ITU TERDAPAT DALAM KETENTUAN ALLAH,” KEMUDIAN IA DIJULUKI DENGAN PENDAPATNYA INI:”KEBAIKAN ITU DALAM KETENTUAN ALLAH.” 
[Di jelasakan Dalam kitab:”Ma’arijul Qabuul,II/225]


Jika berdalih dengan takdir seperti ini dibenarkan, maka setiap orang akan mudah melakukan PEMBUNUHAN,PERUSAKAN,PERAMPOKAN HARTA BENDA DAN BERBUAT KEZALIMAN.Ketika diminta pertangungjawaban atas perbuatannya,maka ia berdalil dengan takdir.Setiap orang yang berakal,akan berpendapat bahwa dalil seperti ini tertolak dan tidak diterima.Jika dibenarkan,maka rusaklah kehidupan ini. Banyak dari mereka yang berdalih dengan takdir ketika melakukan kezaliman,kefasikan dan kesesatannya seperti memberontak dan menyerang.NAMUN KETIKA MEREKA DIPERLAKUKAN ZALIM OLEH ORANG LAIN,MEREKA TIDAK RELA ORANG LAIN BERDALIH DENGAN TAKDIR ATAS KEZALIMAN YANG DILAKUKAN TERHADAPNYA.




Pedoman yang benar sebagaimana dipahami oleh ulama terpercaya dari ALLAH dan RASUL-NYA adalah kewajiban kita UNTUK MENGIMANI TAKDIR.Tapi kita tidak dibolehkan meninggalkan amal dengan dalih beriman kepada takdir. Sebagaimana kita tidak boleh berdalih dengan takdir dan melanggar aturan syari’at.Yang dibolehkan bedalih dengan takdir adalah ketika ditimpa musibah.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata:”ADA DUA KONDISI KETIKA SESEORANG DIHADAPKAN DENGAN TAKDIR ALLAH YAITU SEBELUM DAN SESUDAH DITIMPAKAN TAKDIR.

Seseorang sebelum ditimpakan takdir wajib memohon pertolongan kepada ALLAH,bertawakkal dan berdoa kepada-Nya. Tetapi setelah ditimpakan takdir ALLAH kepadanya yang tidak berasal dari perbuatannya,maka ia wajib bersabar dan ridha dengannya.Dan jika ditimpakan kepadanya atas usahanya sendiri dan itu berupa kenikmatan,maka ia wajib beristigfar kepada ALLAH.


Ada dua kondisi juga ketika seseorang dihadapkan kepada perintah ALLAH: kondisi sebelum melakukan perintah dan kondisi setelah melakukannya. Wajib bagi seseorang sebelum melakukan perintah,berazam dan berniat untuk melaksanakan perintah tersebut dan memohon pertolongan ALLAH.Jika sudah melaksanakan perintah,maka beristiqfar kepada ALLAH dari kekurangan dan kesalahan yang ada (ketika melaksanakannya) serta bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan berupa kebaikan.
ALLAH berfirman:

”MAKA BERSABARLAH,SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH HAQ [BENAR] DAN MOHON AMPUNLAH.”  [QS.GHAFIR : 55]
ALLAH dalam ayat tersebut memerintahkan bersabar atas musibah yang telah ditakdirkannya dan memohon ampun atas dosa yang dilakukan.
ALLAH berfirman:

”DAN JIKA KAMU BERSABAR DAN BERTAKWA,MAKA YANG DEMIKIAN ITU TERMASUK URUSAN YANG PATUT DIUTAMAKAN.”    [QS.ALI IMRAN:186]
Juga firman ALLAH:

”SESUNGGUHNYA ORANG YANG BERTAKWA DAN BERSABAR,MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYIA-NYIAKAN PAHALANYA ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK.”     [QS. YUSUF: 90]
Dalam ayat tersebut ALLAH menyebutkan sabar atas musibah dan takwa dengan meninggalkan dosa. Begitu pula Rasulullah bersabda dalam haditsnya:

”PERHATIKANLAH TERHADAP APA YANG BERMANFAAT BAGIMU,MINTA PERTOLONGAN ALLAH,DAN JANGAN MERASA LEMAH.JIKA ANDA DITIMPA SESUATU,JANGAN BERKATA;SEANDAINYA SAYA BERBUAT TENTUNYA YANG INI DAN ITU,AKAN TETAPI KATAKANLAH;”ALLAH TELAH MENTAKDIRKAN,DAN APA YANG DIKEHENDAKINYA,MAKA AKAN DIPERBUATNYA.KETAHUILAH BAHWASANYA KATA:” SEANDAINYA”  MEMBUKA PERBUATAN SETAN.”   
[HR.SHAHIH MUSLIM]
Seorang mukmin yang cerdas adalah yang tidak meninggalkan kerja dengan alas an bahwa takdir ALLAH telah berlangsung atasnya. Akan tetapi wajib baginya melakukan kerja dengan semangat,ia mengetahui apa yang diminta ALLAH,memikirkan apa yang berfaedah dan bermanfaat baginya,kemudian ia mencurahkan segala kemampuannya dalam melaksanakan perintah-Nya dan mengambil sarana dan sebab untuk melaksanakan sesuatu yang ia yakini baik dan bermanfaat.Jika hasil usahanya belum sesuai dengan apa yang dia inginkan,iapun tidak menghabiskan waktu dengan keluh kesah,yang dia ucapkan dalam kondisi seperti itu.hanyalah:”Ini sudah takdir ALLAH,apa yang dikehendaki-Nya akan diperbuat.” Maka beriman dan berpedoman kepada takdir dapat mengobati problematika jiwa yang dapat menghilangkan potensi manusia dan menghancurkannya jika mengalami kegagalan.Iman kepada takdir tidak mencegah seseorang untuk berbuat dan berkarya serta berkreasi untuk masa depan.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::




**DALIL MEREKA TENTANG HADITS YANG MENUJUKKAN NABI ADAM BERDALIL DENGAN TAKDIR.**

Orang yang kurang akalnya beralasan dengan hadits yang menunjukkan bahwa NABI ADAM DAN MUSA BERDALIL DENGAN TAKDIR dalam hal-hal tercela. Hadits itu diriwayatkan dalam kitab-kitab SHAHIH dan SUNAN.
Abu Hurairah berkata:

”RASULULLAH BERSABDA:”NABI ADAM DAN NABI MUSA BERDEBAT DI HADAPAN RABBNYA, ADAM DAPAT MENGALAHKAN ARGUMEN NABI MUSA.”
NABI MUSA BERKATA: ENGKAU WAHAI ADAM YANG TELAH ALLAH CIPTAKAN LANGSUNG DENGAN TANGAN-NYA,MENIUPKAN PADAMU RUH-NYA,LALU DIA MEMERINTAHKAN MALAIKAT-NYA BERSUJUD KEPADAMU DAN MENEMPATANMU DI SURGA-NYA.NAMUN TERNYATA MANUSIA DITURUNKAN DARI SURGA GARA-GARA KESALAHANMU.”

NABI ADAM BERKATA: ”ENGKAU WAHAI MUSA YANG TELAH ALLAH PILIH UNTUK MENYAMPAIKAN RISALAH DAN FIRMAN-NYA,YANG TELAH DIBERI BUKU (AL-LAUH) YANG DIDALAMNYA TERDAPAT PENJELASAN SEGALA SESUATU DAN MENDEKATKANMU UNTUK BERMUNAJAT (KEPADA-NYA), BERAPA TAHUNKAH MENURUTMU KITAB TAURAT ITU DITULIS ALLAH SEBELUM SAYA DICIPTAKAN ?”…..”EMPAT PULUH TAHUN JAWAB MUSA.

APAKAH ANDA JUMPAI DALAM TAURAT FIRMAN ALLAH:”DAN BERMAKSIATLAH ADAM [KEPADA TUHAN-NYA] MAKA KEMUDIAN SESATLAH DIA.”  [QS.THAHA: 121],TANYA NABI ADAM.
“YA” KATA NABI MUSA.

APAKAH ANDA MENCELAKU ATAS PERBUATANKU YANG TELAH ALLAH TETAPKAN UNTUK AKU LAKUKAN SEJAK EMPATPULUH TAHUN SEBELUM AKU DICIPTAKAN?”…KATA NABI ADAM.

RASULULLAH BERSABDA:NABI ADAM TELAH MENGALAHKAN ARGUMEN NABI MUSA.”
Hadits ini bukan merupakan dalil bagi orang yang menjadikan takdir sebagai alas an atas perbuatan buruk.Sebab Nabi Adam dalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas perbuatan dosa,yang ia sendiri sudah bertobat darinya dan ALLAH pun sudah menerima tobatnya.Kemudian ALLAH memilihnya dan memberikannya hidayah.Hanya saja celaan Nabi Musa ini dikarenakan musibah yang mengeluarkan Nabi Adam dan keturunannya dari Surga. Maka Nabi Adam berhujjah dengan takdir atas musibah,namun tidak dapat dijadikan alas an atas dosa dan kesalahan. Oleh karena itu,wajib bagi setiap muslim untuk menerima putusan takdir ketika ditimpa suatu musibah. Sebagaimana ALLAH berfirman:

”[YAITU] ORANG-ORANG YANG DITIMPA MUSIBAH,MEREKA MENGATAKAN SESUNGGUHNYA KAMI MILIK ALLAH DAN KAMI AKAN KEMBALI KEPADA-NYA,(INANALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN).”  
[QS.AL-BAQARAH :156 ]
Tidak dibenarkan bagi pelaku dosa beralasan dengan takdir.Justru yang wajib bagi mereka BERTOBAT DAN BERISTIGHFAR.
ALLAH berfirman:

”MAKA BERSABARLAH,SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR,DAN MINTA AMPUNLAH [KEPADA ALLAH]UNTUK [MENGAMPUNI] DOSAMU.”   [QS. GHAFIR:55]. 


ALLAH dalam ayat ini memberikan petunjuk untuk bersabar atas musibah yang menimpa,dan bersitighfar atas dosa yang diperbuat.

ALLAH mencela Iblis bukan karena pengakuannya terhadap adanya takdir,sebagai ucapannya:

” WAHAI RABBKU KARENA ENGKAU TELAH MEMUTUSKAN BAHWA AKU SESAT.”  [QS.AL-HIJR: 39]

Akan tetapi karena dia (Iblis) menjadikan takdir sebagai alasan.

Ibnu Qayim menjawab,kesulitan pemahaman yang terdapat dalam hadits yang menerangkan bahwa Nabi Adam berhujjah dengan takdir atas perbuatan dosa, di satu sisi bermanfaat,sementara disisi lain membahayakan. Maksudnya:” Bermanfaat jika berdalih dengannya setelah terjadinya dosa,kemudian dia bertobat darinya dan tidak mengulangi kembali sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Adam. Menyebutkan takdir pada saat itu,adalah bagian dari TAUHID dan beriman terhadap nama-nama ALLAH dan sifat-sifat-Nya,mnyebutkannya juga bertujuan agar bermanfaat bagi orang yang mengingat dan mendengarnya. Sebab Nabi Adam tidak berdalih dengan takdir untuk MENOLAK PERINTAH dan LARANGAN atau BERMAKSUD menggugurkan Syari’at. Beliau hanya menginformasikan KENYATAAN YANG SESUNGGUHNYA dari sisi Tauhid dan Tidak adanya kekuatan yang dia miliki.
HAL TERSEBUT DIJELASKAN DALAM PERKATAAN NABI ADAM KEPADA NABI MUSA,” APAKAH ENGKAU AKAN MENCELAKU ATAS PERBUATANKU YANG TELAH TERTULIS SEBELUM AKU DI CIPTAKAN…?? Maka,jika seseorang berbuat dosa,kemudian bertobat darinya,dan sudah hilang dan selesai masalahnya seperti sudah tidak lagi,kemudian ada seorang lain yang mencelanya,maka baik sekali seorang tersebut berdalih dengan takdir,dengan mengatakan kepada yang mencacinya:” Ini adalah hal yang sudah ditakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan.” Maka ucapan seperti ini tidak menunjukkan bahwa dia menolak kebenaran dengan dalih takdir. Juga bukan untuk berdalih atas kesalahannya. Adapun sisi yang lain yang membahayakan ketika berhujjah dengan takdir adalah berhujjah dengannya UNTUK PERBUATAN YANG AKAN DATANG, contohnya seperti orang melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan yang diwajibkan,kemudian ada seseorang yang mencelanya,maka ia berdalih dengan takdir atas perbuatannya dan terus menerus melakukannya. Oleh karena itu,ia termasuk orang yang membatalkan kebenaran dan melakukan kebatilan sambil berdalih dengan takdir. Orang ini seperti orang-orang yang terus menerus menyekutukan ALLAH dan beribadah kepada yang lain-Nya lalu berdalih dengan takdir.”  [Dijelaskan dalam Kitab:”Syifa’ul Aliil, hal. 35]












0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami