Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

****WASIAT RASULULLAH TERHADAP KAUM MUSLIMIN TERHADAP WANITA MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS [PART. 1 ]****

Written By Ummu Marwah on Senin, 09 April 2012 | 05.28

Oleh Ummu Marwah 7 November 2011








بِسْـــــــــــــــــــــ ـمِ اﷲِارَّتْمَنِ ارَّتِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

KONSISTEN TERHADAP AJARAN ISLAM DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS




 Seorang Muslim yang baik setelah menikah, maka ia wajib berjalan di atas petunjuk agama Islam yang tinggi dalam bergaul dengan istrinya.
Kalau kita memperhatikan petunjuk agama Islam yang agung dalam wasiatnya tentang wanita; menyuruh kepada kita untuk menghormati wanita serta bergaul dengannya dengan baik dan niscaya kita akan melihat hal yang mencengangkan.

Islam telah berwasiat tentang wanita, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tidak dikenal pada selain agama ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  menghimbau semua orang laki-laki dengan sabdanya:
”BERWASIATLAH DENGAN WANITA DENGAN WASIAT YANG BAIK, KARENA WANITA DICIPTAKAN DARI TULANG RUSUK, DAN TULANG RUSUK YANG PALING BENGKOK ADALAH YANG PALING ATAS, KALAU ENGKAU MELURUSKANNYA, MAKA ENGKAU MEMATAHKANNYA, DAN JIKA ENGKAU BIARKAN, IA AKAN TETAP BENGKOK, MAKA BERWASIATLAH KEPADA WANITA DENGAN WASIAT YANG BAIK.”
[MUTTAFAQ ‘ALAIHI].

Dalam riwayat lain dari Bukhari dan Muslim:
"WANITA SEPERTI TULANG RUSUK, JIKA ENGKAU MELURUSKANNYA ENGKAU MEMATAHKANNYA, DAN JIKA ENGKAU BERSENANG-SENANG DENGANNYA,ENGKAU BERSENANG-SENANG DENGANNYA SEMENTARA IA DALAM KEADAAN BENGKOK.”

Dalam riwayat Muslim:
"SESUNGGUHNYA WANITA DICIPTAKAN DARI TULANG RUSUK, TIDAK AKAN LURUS BAGIMU ATAS SATU JALAN, JIKA ENGKAU BERSENANG-SENANG DENGANNYA, MAKA ENGKAU BERSENANG-SENANG DENGANNYA DAN IA ADA BENGKOKNYA, DAN JIKA ENGKAU MELURUSKANNYA, MAKA ENGKAU MEMATAHKANNYA, DAN MEMATAHKANNYA BERARTI MENCERAIKANNYA."

Dalam perumpamaan nabi ini adalah penjelasan yang bagus bagi hakikat wanita dan tabiatnya yang diciptakan atasnya, ia tidak lurus dalam salah satu keadaan sebagaimana diinginkan suami, maka seharusnya seorang suami Muslim harus tahu bahwa hal tersebut sudah merupakan tabiat dan akhlak bagi wanita, maka janganlah ia berusaha meluruskannya atas kebenaran yang ada dalam pikirannya bahwa itulah yang benar atau sempurna. Dan hendaklah ia memperhatikan tabiat kewanitaannya yang khas. Ia menerimanya sebagaimana diciptakan oleh ALLAH Subhanahu wa Ta'ala, bahwa dia mempunyai kebengkokan dari apa yang dia iginkan dalam sebagian hal, kalau ia tetap dalam pendiriannya dan ingin meluruskannya sesuai dengan keinginan dan seleranya, maka perumpamaannya, seperti perumpamaan seseorang yang bersikeras meluruskan tulang rusuknya, dan akibatnya ia patah ditangannya sendiri, dan mematahkan wanita adalah menceraikannya.

Apabila petunjuk Nabi yang tinggi ini telah tertanam di hati seorang suami Muslim yang benar, yang terbina atas pemahaman yang mendalam terhadap kejiwaan wanita dan tabiatnya, maka ia akan toleran dalam banyak kesalahan istrinya, dan ia akan banyak menerima kekhilafannya, karena ia paham terhadap akhlak dan fitrahnya. Dengan demikian, kehidupan rumah tangganya akan aman, tenang dan bahagia, tidak ada teriakan dan pertengkaran di dalamnya. Yang memperhatikan teks Hadits tersebut bahwa Nabi memulai kata-katanya dengan:
"BERWASIATLAH UNTUK WANITA.”

Alangkah besarnya perhatian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  terhadap wanita, dan alangkah mendalamnya pemahaman beliau terhadap kepribadiannya, apakah mungkin bagi suami yang Muslim untuk tidak melaksanakan petunjuk Nabi yang mulia ini, dan mengamalkan disetiap waktu?

Karena besarnya perhatian Nabi terhadap wanita, sampai-sampai beliau tidak lupa menyinggung wasiat terhadap wanita di HAJI WADA, yaitu khutbah dimana Nabi meringkas apa yang perlu disampaikan kepada UMAT ISLAM. Setelah merasa bahwa hari ITU MERUPAKAN PERTEMUAN TERAKHIR BERSAMA MEREKA DALAM HAJI, DALAM KHUTBAH YANG AGUNG ITU BELIAU TIDAK LUPA BERWASIAT UNTUK WANITA, MEMULAI PEMBICARAAN TENTANG MEREKA DAN PERINGATAN YANG MENUNJUKKAN ATAS PERHATIAN BELIAU:
"AKU BERWASIAT KEPADA KALIAN TENTANG WANITA DENGAN BAIK, MAKA TERIMALAH WASIATKU, KARENA MEREKA ADALAH TAWANAN PADA KALIAN, KALIAN TIDAK MEMILIKI DARI MEREKA SELAIN ITU, KECUALI BILA MEREKA MELAKUKAN KEKEJIAN DENGAN JELAS, KALAU MEREKA MELAKUKAN DEMIKIAN, MAKA JAUHILAH MEREKA DI TEMPAT TIDUR, DAN PUKULLAH MEREKA DENGAN PUKULAN YANG TIDAK MENCEDERAI, APABILA MEREKA MENAATI KALIAN MAKA JANGANLAH KALIAN MENCARI-CARI ALASAN UNTUK MENYAKITI MEREKA. SUNGGUH, KALIAN MEMPUNYAI HAK ATAS ISTRI-ISTRI KALIAN, DAN ISTRI-ISTRI KALIAN MEMPUNYAI HAK KEPADA KALIAN, HAK KALIAN ATAS MEREKA ADALAH BAHWA MEREKA TIDAK BOLEH MENGIZINKAN ORANG YANG TIDAK KALIAN SUKAI DUDUK DI RUMAH KALIAN, DAN TIDAK MENGIZINKAN ORANG YANG TIDAK KALIAN SUKAI MASUK KERUMAH KALIAN, INGATLAH, HAK MEREKA ATAS KALIAN ADALAH HENDAKNYA KALIAN BERBUAT BAIK KEPADA MEREKA DALAM BEMBERI PAKAIAN DAN MAKANAN.”
[HR. TIRMIDZI].

Itulah wasiat yang didengar oleh setiap suami Muslim yang jujur dan sadar, ia melihat di dalamnya ada petunjuk Nabi yang bijaksana dalam membatasi hak-hak dan kewajiban atas para suami dan istri, dalam bingkai kasih dan sayang, lembut, juga berbuat baik kepada mereka, sehingga tidak lagi berfikir untuk menzhalimi istri atau menyakitinya dalam rumah tangga Muslim.

Banyak sekali wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  tentang wanita, sehingga beliau menjadikan suami yang berbuat baik kepada istrinya sebagai lelaki terbaik dan pilihan, sebagaimana sabda beliau:
"ORANG MUKMIN YANG PALING SEMPURNA IMANNYA ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA, DAN YANG TERBAIK DI ANTARA KALIAN ADALAH YANG PALING BAIK KEPADA ISTRINYA.”
[HR. TIRMIDZI].

Datanglah beberapa wanita kepada keluargga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengadukan suami-suami mereka, maka Rasululllah mengumumkan kepada semua laki-laki dengan sabdanya yaitu:
”TELAH DATANG KEPADA KELUARGA MUHAMMAD BEBERAPA WANITA YANG MENGADUKAN KEBURUKAN PARA SUAMI MEREKA, MEREKA BUKANLAH ORANG YANG TERBAIK DI ANTARA KALIAN.”
[HR. ABU DAUD, NASA’I DAN IBNU MAJAH].

ISLAM mengajarkan untuk berbuat adil dan memuliakan wanita, dan berwasiat kepada suami supaya mempergaulinya dengan baik, walau pun ia tidak menyukainya, inilah yang belum pernah dicapai oleh wanita sepanjang sejarah kecuali dalam agama ini.

ALLAH 'Azza wa Jalla  berfirman dalam kitab-Nya:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

”.. DAN BERGAULLAH DENGAN MEREKA SECARA PATUT. KEMUDIAN BILA KAMU TIDAK MENYUKAI MEREKA, [MAKA BERSABARLAH] KARENA MUNGKIN KAMU TIDAK MENYUKAI SESUATU, PADAHAL ALLAH MEJADIKAN PADANYA KEBAIKAN YANG BANYAK.”
[QS.AN-NISA : 19].

Ayat yang mulia ini menyentuh perasaan seorang Muslim yang benar, ia menenangkan kemarahannya, dan mengurangi rasa benci kepada istrinya. Dengan demikian, Islam menjaga keutuhan ikatan suami istri dari perpecahan, dan menjaga ikatan suci agar tidak menjadi sasaran emosi yang labil. Alangkah agungnya perkataan Sayyidina 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu kepada seorang laki-laki yang ingin menceraikan istrinya karena ia tidak menyukainya:
"CELAKA ENGKAU, APAKAH ENGKAU MENGIRA BAHWA SEBUAH RUMAH TANGGA DI BANGUN ATAS PERASAAN CINTA SEMATA? DI MANAKAH SIKAP PERHATIAN DAN RASA BELAS KASIHAN?"

Ikatan perkawinan dalam Islam lebih agung dari dorongan emosi, dan lebih mulia dari tekanan nafsu hewani yang beracun. Seorang Muslim sejati mempunyai harga diri, kesucian hati, kelapangan dada dan akhlak yang tinggi yang menjadikannya menghindari sifat hewan, keserakahan pedangan, dan kesia-siaan orang bodoh dalam bergaul dengan istri yang tidak ia sukai. Seorang Muslim sejati taat melaksanakan perintah Tuhannya, sehingga ia mempergaulinya dengan baik walau pun ia tidak suka kepadanya, hal ini karena ia memperhatikan firman TUHANNYA YANG MAHA MENGETAHUI terhadap apa yang tidak ia ketahui, dan hal itu banyak sekali. Manusia terkadang membenci sesuatu, ia tidak menyukainya, bahkan ingin menjauh darinya, padahal hal tersebut penuh kebaikan dan diliputi keberkahan. Oleh karena itu seorang Muslim yang sadar dan tahu bagaimana ia mencintai, dan tahu bagaimana ia membenci, maka ia tidak berlebihan dalam mencintai seseorang yang ia sukai dengan cinta buta, dan tidak berlebihan dalam membenci orang yang ia benci, akan tetapi ia pertengahan antara kedua sikap tersebut dan sederhana antara dua sikap tersebut.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  menjelaskan bahwa wanita Mukminah dan Muslimah walau pun suaminya tidak menyukai, ia tidak boleh terlepas dari akhlak mulia yang disukai suaminya, maka tidak sepatutnya bagi suami menutup diri dari sisi baik ini, dan hanya menampakkan sisi yang ia benci:
“JANGANLAH SEORANG MUKMIN MEMBENCI SEORANG MUKMINAH, KALAU IA MEMBENCI DARINYA SUATU PERILAKU, IA PASTI MENYUKAI PERILAKU YANG LAIN.”
[HR. MUSLIM ].


** SEORANG MUSLIM SEJATI ADALAH SUAMI TELADAN **



Seorang Muslim sejati mematuhi nash-nash yang jelas dan pasti yang memerintahkannya untuk berbuat adil dan berbuat baik kepada istri, sehingga mau tidak mau ia harus menjadi suami teladan, di mana istrinya merasa senang dengan pergaulannya yang baik, dan bahagia dengan pendampingnya yang berakhlak mulia, walau usia beranjak tua. Apabila memasuki rumah, ia menemui istri dan anak-anaknya dengan wajah berseri, dan jiwa yang tenang. Ia mengucapkan salam keberkahan kepada mereka dengan salam yang diperintahkan ALLAH kepadanya, dan menjadikannya ucapan salam khusus bagi orang Islam. ALLAH Subhanahu wa Ta'ala  berfirman:

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً 

”.. MAKA APABILA KAMU MEMASUKI [SUATU RUMAH DARI] RUMAH-RUMAH [INI] HENDAKLAH KAMU MEMBERI SALAM KEPADA [PENGHUNINYA YANG BERARTI MEMBERI SALAM ] KEPADA DIRIMU SENDIRI, SALAM YANG DITETAPKAN DARI SISI ALLAH, YANG DIBERI BERKAT LAGI BAIK..”
[QS. AN-NUUR : 61 ].

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  menganjurkan untuk mengucapkan salam ini, beliau berkata kepada Anas Radhiyallahu 'Anhu:
”WAHAI ANAKKU, APABILA ENGKAU MASUK MENEMUI KELUARGAMU MAKA UCAPKANALAH SALAM, NISCAYA MENJADI KEBERKAHAN BAGIMU DAN KELURGAMU.”
[HR. TIRMIDZI ].

Sungguh suatu keberkahan, apabila seorang Muslim menemui keluarganya dengan ucapan salam, dan menghadapi mereka bagaikan datangnya musim semi, sehingga hidup mereka di penuhi dengan kebahagiaan dan keceriaan, dan dipenuhi dengan keakraban, kasih sayang dan ridha. Memberi pertolongan pada istrinya apabila ia melihat istrinya memerlukan pertolongan, dan menghiburnya dengan perkataan yang lembut apabila ia melihat istrinya merasa sedih, kepayahan, bosan, atau susah, ia memberi kesan pada istrinya bahwa dia hidup di bawah naungan suami yang kuat, mulia dan toleran. Menjaganya dan memeliharanya, serta memberi perhatian atas segala persoalannya, menyediakan semua keperluannya sesuai dengan kemampuannya. Menyenangkan istrinya dengan berhias dengan hiasan yang diperbolehkan oleh agama yang lurus, dan ia memberikan sebagian waktu juga perhatiannya sehingga ia tidak menghabiskan semua waktunya untuk membaca, bekerja atau menyalurkan hobbynya saja.

Islam telah menjamin bagi wanita haknya untuk bersenang-senang dengan suaminya, sehingga Islam tidak membolehkan suami menghabiskan semua waktunya untuk beribadah, karena amal yang paling agung dan mulia itu. Hal ini agar tidak merusak keseimbangan yang baik yang menjadi dasar agama yang agung ini. Hal ini bisa didapatkan dalam riwayat 'Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi mengetahui berlebihannya dia dalam beribadah, beliau berkata kepadanya:
”TIDAKKAH AKU TELAH MENDAPAT BERITA BAHWA ENGKAU SENANTIASA BERPUASA DI SIANG HARI DAN BANGUN MALAM?”

IA BERKATA:
"BETUL WAHAI RASULULLAH."

BELIAU BERKATA:
"JANGAN ENGKAU LAKUKAN, BERPUASALAH DAN BERBUKALAH, TIDUR DAN BANGUNLAH, KARENA SESUNGGUHNYA JASADMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, DAN MATAMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, ISTRIMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, DAN TAMUMU JUGA MEMPUNYAI HAK ATASMU..”
[HR. BUKHARI dan MUSLIM ].

Khaulah binti Hakim, istri Usman bin Madz’un Radhiyallahu 'Anhu  masuk menemui istri-istri Nabi dalam pakaian yang lusuh, dan penampilan kusut, mereka berkata padanya:
”ADA APA DENGANMU?”

Ia berkata tentang suaminya:
”ADAPUN DI WAKTU MALAM IA QIYAMUL LAIL, ADAPUN DIWAKTU SIANG DIA BERPUASA..,
maka mereka memberitahu Rasulullah tentang perkataannya, lalu Rasulullah bertemu Usman bin Madz’un dan menegurnya, beliau berkata kepadanya:
”TIDAKKAH ENGKAU MENELADANIKU?”

IA BERKATA:
” YA, SEMOGA ALLAH MENJADIKANKU SEBAGAI TEBUSANMU."

SETELAH ITU ISTRINYA DATANG DENGAN PENAMPILAN YANG BAGUS DAN BAU YANG HARUM, DALAM RIWAYAT LAIN, BAHWASANYA NABI BERTANYA PADANYA:
”WAHAI UTSMAN, SESUNGGUHNYA KEPENDETAAN TIDAK DIWAJIBKAN ATAS KITA, TIDAKKAH ENGKAU MENJADIKANKU SEBAGAI TELADAN ? DEMI ALLAH SESUNGGUHNYA YANG PALING TAKUT KEPADA ALLAH DAN PALING MENJAGA HUKUM-HUKUMNYA ADALAH AKU.”
[Di jelaskan dalam kitab:” AL-HILYAH 1/106, THABAQAT IBN SA’AD 3/394,AL-KANZ, 8/305 ].

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  telah menyebarkan ajarannya ini di antara para sahabatnya, dan membawa mereka kepada keseimbangan dalam kehidupan beribadah mereka, dan kehidupan pribadi mereka dengan istri-istri mereka, sehingga keseimbangan ini menjadi kebiasaan mereka, mereka saling berwasiat dengannya, dan berusaha menghias diri dengannya, dan mereka mengadukan kepada Rasulullah apabila ada salah seorang di antara mereka yang tidak menghiraukannya dan berlebihan dalam zuhud, kesederhanaan, dan ibadah.

Iman Bukhari meriwayatkan dari Abu Juhfah Radhiyallahu 'Anhu  yang berkata:
”NABI mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda. SUATU HARI, SALMAN BERZIARAH KEPADA ABU DARDA, IA MELIHAT UMMU DARDA, DALAM KONDISI LUSUH. IA BERKATA KEPADANYA, ADA APA DENGANMU?"

IA BERKATA:
“SAUDARAMU ABU DARDA, TIDAK BUTUH LAGI KEPADA DUNIA, LALU DATANGLAH ABU DARDA DAN MEMBUAT MAKAN UNTUK SALMAN LALU BERKATA: 'MAKANLAH, SESUNGGUHNYA AKU BERPUASA.' PERINTAHNYA, SALMAN MENOLAK: 'AKU TIDAK AKAN MAKAN HINGGA ENGKAU MAKAN..,' AKHIRNYA IA MAKAN.”

DI WAKTU MALAMNYA, SAAT ABU DARDA BANGUN UNTUK SHALAT MALAM, SALMAN BERKATA:
”TIDURLAH.., SETELAH TIBA DI AKHIR MALAM SALMAN BERKATA: ”SEKARANG BANGUNLAH.., LALU MEREKA BERDUA SHALAT.

SALMAN BERKATA KEPADANYA:
”SESUNGGUHNYA TUHANMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, DAN DIRIMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, DAN KELURGGAMU MEMPUNYAI HAK ATASMU, MAKA BERILAH MASING-MASING HAKNYA."

KEMUDIAN IA DATANG KEPADA NABI DAN MEMBERITAHUKAN HAL TERSEBUT PADA BELIAU, MAKA NABI BERKATA:
”SALMAN BENAR."

Seorang Muslim yang cerdas tidak lupa menghilangkan rutinitas yang sering bersama istrinya, ia senantiasa menghiasi sisi-sisi kehidupan antara keduanya dengan percandaan yang lembut yang menyenangkan. Dan hiburan yang menggembirakan, sehingga menjadikannya selingan dari waktu ke waktu. Dalam hal ini ia mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang merupakan puncak keteladanan dalam segala sisi kehidupannya. Beliau tidak hanya menyibukkan dengan beban berat yang menjadi tugas beliau, seperti menata kaidah-kaidah agama, membagun umat Islam, mengarahkan pasukan Jihad, dan banyak amal agung lainnya, itu semua tidak menghalangi beliau menjadi suami teladan dalam bergaul yang baik bersama istri-istri beliau, akhlak yang tinggi, wajah berseri dan bercanda dengan lembut.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha  yang berkata:
“AKU MENYUGUHKAN MASAKAN KEPADA NABI, AKU BERKATA KEPADA SAUDAH Radhiyallahu 'Anha SEMENTARA NABI BERADA ANTARA AKU DAN DIA, 'MAKANLAH', NAMUN IA ENGGAN, LALU AKU TEGASKAN, 'MAKANLAH, KALAU TIDAK, AKU AKAN MELUMURI WAJAHMU DENGAN MASAKAN INI', NAMUN IA MENOLAK JUGA, MAKA AKU MELETAKKAN TANGANKU PADA MAKANAN TERSEBUT DAN MELUMURI WAJAHNYA DENGANNYA. MAKA NABI TERTAWA, BELIAU MELETAKAN TANGANNYA PADA MAKANAN DAN BERKATA (KEPADA SAUDAH): 'LUMURI WAJAHNYA..'."

DALAM RIWAYAT LAIN:
“BELIAU MERENDAHKAN KEDUA LUTUTNYA AGAR DIA MEMBALASKU, MAKA DIA MENGAMBIL SESUATU DARI PIRING DAN MENGUSAP WAJAHKU DENGANNYA, SEDANGKAN RASULULLAH TERTAWA.”
[Di jelaskan dalam kitab: ”Al-Haitsami 4/316, Kanzul ummal 7/302, Al-Haitsami berkata: ”diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan para perawinya adalah para perawi Shahih kecuali Muhammad bin Amr bin Al Qamah, dan Haditsnya Hasan."].

Tidakkah anda memperhatikan kepada akhlak yang menarik ini, dan sikap toleransi yang menceriakan, hati yang besar saat bercanda dengan istri dan bergaul dengan baik, dan memberikan kesenangan dan keceriaan ke dalam hatinya.

Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwasanya beliau pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, ia berlomba lari dengan Rasulullah dan ia memenangkannya, tatkala ia sudah gemuk, ia berlomba lari lagi, dan Rasulullah yang memenangkannya, Rasulullah berkata:
”INI ADALAH BALASAN (KEKALAHANKU) YANG TERDAHULU.”
[HR. AHMAD DAN ABU DAUD].

Dada beliau lebih lapang lagi untuk memberikan tambahan kesenangan pada hati istrinya tercinta yang masih muda, beliau mengajaknya menghadiri sebagian jenis permainan yang bersih, untuk menghibur dirinya, dan merasa senang menyaksikannya. Di antara adalah yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwasanya Nabi sedang duduk, lalu beliau mendengar suara gaduh dan suara anak-anak, ternyata seorang habasyah menari dan orang-orang berada disekitarnya, beliau berkata:
”WAHAI AISYAH, KEMARI, LIHATLAH.. MAKA AKU MELETAKAN PIPIKU DI BAHUNYA DAN MENYAKSIKAN DARI ANTARA BAHU DAN KEPALANYA, BELIAU BERKATA: ” WAHAI AISYAH, TIDAKKAH ENGKAU TELAH PUAS?”

AKU BERKATA:
”TIDAK,” UNTUK MELIHAT KEDUDUKANKU DI SISINYA, SUNGGUH AKU MELIHAT BELIAU MENGISTIRAHATKAN KEDUA KAKINYA.”
[HR.NASA’I ].

Dalam riwayat lain Aisyah berkata:
”DEMI ALLAH SUNGGUH AKU MELIHAT RASULULLAH MENUTUPIKU DENGAN TOMBAK DI MASJID, DAN RASULULLAH MENUTUPIKU DENGAN SORBANNYA AGAR AKU MELIHAT KEPADA MEREKA DI ANTARA TELINGA DAN BAHUNYA, KEMUDIAN BELIAU BERDIRI UNTUKKU, SEHINGGA AKULAH YANG PERGI LEBIH DULU. BELIAU MEMAHAMI PERASAAN WANITA BELIA YANG MASIH SENANG BERMAIN.”
[HR.BUKHARI DAN MUSLIM].

Seorang Muslim yang melihat sejarah Rasulullah dengan para istrinya yang dipenuhi dengan pergaulan yang baik dan penuh canda, tidak ada jalan lain kecuali bergaul dengan baik dengan istrinya, lemah lembut, berakhlak mulia, lapang dada, selama pergaulan dengan istrinya masih dalam batas hiburan yang halal dan mubah.

Seorang Muslim yang takwa dan cerdas, tidak cepat emosi karena hal-hal yang sepele, tidak cepat marah hanya karena masakan yang tidak cocok dengan seleranya, atau makanan terlambat dari waktu yang semestinya, dan sebab-sebab lain yang menimbulkan kemarahan, percekcokan dan pertengkaran antara suami dan istri. Hal ini karena seorang Muslim sejati yang meneladani Rasulullah adalah manusia yang agung dan selalu mengingat akhlak Rasulullah yang menjadikannya mulia, pemaaf dan toleran.

Ia ingat bahwa di antara akhlak Rasulullah adalah beliau tidak pernah mencela makanan:
“JIKA SUKA, BELIAU MAKAN, DAN BILA TIDAK SUKA, DITINGGALKAN.”
[MUTTAFAQ ‘ALAIHI ].

Dan ia ingat bahwa Nabi bertanya kepada keluarganya apakah ada lauk?"
Mereka berkata:
”KAMI TIDAK MEMPUNYAI APA-APA KECUALI CUKA, MAKA BELIAU MEMINTA DAN MEMAKANNYA, DAN BERKATA:” SEBAIK-BAIK LAUK ADALAH CUKA, SEBAIK-BAIK LAUK ADALAH CUKA.”
[HR. MUSLIM ].

Maka, hendaklah para suami tidak sering marah karena kesalahan yang terjadi pada istri mereka, baik karena terlambatnya makanan dari waktunya, atau tidak sesuai dengan seleranya yang tinggi, karena terkadang ada sebab-sebab yang memaksa istri yang lemah terjatuh pada kesalahan tersebut,akan tetapi para suami langsung marah sebelum mengetahui sebab-sebabnya, bukankah mereka adalah laki-laki yang menjadi pemimpin wanita?

Suami Muslim yang baik, tidak cukup berbuat baik kepada istrinya, akan tetapi kebaikan dan kemuliaannya sampai juga kepada teman-teman istrinya. Hal ini dalam rangka meneladani apa yang dilakukan oleh Rasululllah. Aisyah radhiyallahu anha berkata:
”SEORANG WANITA TUA MENDATANGI NABI, LALU BELIAU MENYAMBUTNYA DAN MEMULIAKANNYA, DAN BERTANYA KEPADANYA: ”APA KABAR? BAGAIMANA KEADAANMU? BAGAIMANA ENGKAU SETELAH KAMI?”

DIA MENJAWAB:
”BAIK.”

SETELAH ITU DIA KELUAR, AISYAH BERKATA:
” ENGKAU MENYAMBUT WANITA TADI SEDEMIKIAN RUPA? ENGKAU TELAH MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK ENGKAU LAKUKAN TERHADAP ORANG LAIN..”

NABI MENJAWABNYA:
”DULU IA DATANG KEPADA KAMI BERSAMA KHADIJAH, TIDAKKAH ENGKAU TAHU BAHWA KETULUSAN CINTA TERMASUK SEBAGIAN DARI IMAN?”
[HR. HAKIM ]. ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
♥ღϠ₡ღ♥ Semogah bermanfaat dalam meningkatkan iman dan takwa,....wabillahi taufik wal hidayah,,,Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barakaatuh.....Salam Ukhuwah.♥ღϠ₡ღ♥

************* INSYAALLAH BERSAMBUNG **************


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami