Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

********AQIDAH,FILSAFAT DAN ILMU KALAM, PEMBAHASANNYA SESUAI AL-QUR'AN DAN HADITS******

Written By Ummu Marwah on Minggu, 08 April 2012 | 10.37


oleh Ummu Marwah pada 9 November 2010










1-PEMBAHASAN ANTARA AQIDAH ISLAMIYAH,FILSAFAT DAN ILMU KALAM.

Topik yang dibahas dalam filsafat itu adalah topik yang sama dengan yang dibahas dalam agama,karena orang-orang ahli filsafat beranggapan bahwa pembahasan mereka bertujuan untuk mengetahui dasar wujud (eksistensi dan asal kejadian) dan tujuannya,mengetahui sarana yang dapat mewujudkan kebahagiaan manusia,baik untuk jangka pendek (dunia),maupun untuk jangka panjang (akhirat.)

Kedua tema inilah yang menjadi objek pembahasan ilmu filsafat dengan dua jenisnya:ilmiah dan amaliah (praktik ).

Dan ini pula yang menjadi topik bahasan ilmu agama.(seperti disebutkan dalam kitab:Ad Diin,karya Diraz,hal. 59-60).

Dikatakan ,walaupun demikian,terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara agama dan filsafat.

Keduanya berbeda dari segi referensi,dari segi pedoman dan metode,dari segi kekuatan pengaruh dan kendalinnya,dari segi teknik dan cara mengajukan dalil dan argumentasi,dan dari segi pengaruh yang ditimbulkan oleh keduannya.

Disini kami akan mencoba menjelasakan semua itu,agar kerancuan antara agama dan filsafat ini bisa hilang.

A.Sumber dan Referensi.

Filsafat dengan segala bentuknya adalah "kerja manusia"yang dikendalikan oleh segala yang ada pada tabiat manusia,berupa keterikatan,keterbatasan,gerakan yang sangat lamban untuk mencapai sesuatu yang belum diketahui,sering mengalami perubahan,bolak balik antara petunjuk dan kesesatan serta mendekat atau menjauh dari derajat kesempurnaan.

Oleh karena itu,tokoh-tokoh filsafat tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan,sehingga segala konsep dan keyakinan yang ada di dalamnya adalah merupakan hasil dan pengaruh dari segala apa yang ada disekitarnya. (Dlm kitab.Ad Diin,karya Diraz,hal. 73.)Sebagai contoh misalanya adalah Plato,bila kita memperhatikan hasil pemikirannya,kita akan melihat bahwa ia mengulang-gulang dongeng yang tersebar pada zamannya,bahkan kadang-kadang ia mengarang dongeng-dongengnya itu lalu memasukkan pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinannya sendiri ke dalamnya.Bahkan banyak diantara keyakinan-keyakinan dan pendapat-pendapatnya pada dasarnya adalah dongeng itu sendiri.

Dengarlah penuturan Al' Aqqod tentang Plato : "Lingkungan panganis (menyembah berhala) yang merupakan budaya dan hal yang nyata (pada waktu itu dalam masyarakatnya ) telah mempengaruhi pikiran-pikiran Plato,lalu memasukan dalam keyakinannya,kepercayaan kepada tuhan-tuhan yang semuanya tidak mempunyai tempat dalam agama yang Tauhid. (Di jelaskan dlam buku "ALLAH", Karangan Al'Aqqod hal. 129) ..Al 'Aqqod kemudian memaparkan teori Plato tentang wujud (eksistensi),lengkap dengan argumentasi: "Eksistensi dalam ideologi Plato adalah dua tingkatan yang saling berhadapan:tingkatan akal yang bersifat mutlak dan tingkatan materi dasar (material).Segala kemampuan berasal dari akal yang bersifat mutlak dan segalah kelemahan berasal dari materi.Dan diantara dua tingkatan itu,terdapat esensi-esensi yang bertingkat-tingkat pada semua makhluk,yang derajatnya bisa tergantung berapa banyak bagian akal yang ia ambil,dan bisa turun tergantung berapa banyak bagian materi yang ia ambil.Makhluk-makhluk yang ada ditengah ini,sebagian antaranya adalah tuhan,sebagian yang lain adalah setengah tuhan dan sebagian yang lain adalah manusia biasa. (Dalam buku "ALLAH,karangan Al' Aqqod,hal.129 ) Alasan yang membuat Plato menerima adanya setengah tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh Al'Aqqod adalah: "Ia ingin menjadikan itu semua sebagai alasan timbulnya kejahatan,kekurangan, dan penderitaan di dunia ini,karena akal yang mutlak ini sempurna dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat,yang tidak menghasilkan sesuatu kecuali kebaikan dan keutamaan.Tuhan-tuhan inilah yang bertugas untuk menciptakan,karena berada diantara tuhan yang berkuasa dan materi yang lemah.Lalu dari posisi pertengahan diantara kedua sisi ini muncul kekurangan,kejahatan dan penderitaan.Termasuk hal yang perlu kita ketahui pula bahwa Plato mempercayai keyakinan reinkarnasi. Inilah filsafat dari sisi sumbernya.

Adapun aqidah Islamiyah adalah bersumber dari wahyu ALLAH.Dia memiliki segala sifat-sifat ketuhanan,seperti kebenaran abadi yang kata-kata-Nya yang tidak mengalami perubahan.Maha Benar yang tidak dimasuki oleh kebatilan dari hadapan atau pun belakang-Nya.Bahkan lebih dari itu,wahyu ini adalah "karunia agung" yang sampai kepada pembawa dan utusan aqidah ini dengan mudah tanpa harus mengeluarkan tenaga dan kepayahan,menerangi mereka dengan cahaya-Nya dalam waktu yang sangat cepat,bagai sekilas pandang atau bahkan lebih cepat. (dlm karangan Ad Diin, karya Diraz, hal 73.)

B. Manhaj dan Metode...(rujukan dalam kitab Majmu' Fatawa , karya Syekh Islam Ibnu Taimiyah, 2/1, 25 )

Manhaj Filsafat dengan manhaj Islam berbeda dari sisi arah perjalanan keduanya dari titik awal hingga titik akhir.

Banyak kalangan orang-orang filsafat yang mengawali studinya tentang diri manusia yang di jadikan sebagai dasar pijakan mereka untuk kemudian diperluas.Lalu mereka berbicara tentang menuntut ilmu,yang kadang diperoleh dengan indra (bersifat materil),akal, atau dengan keduanya.Mereka jadikan ilmu-ilmu sejenisnya sebagai dasar,di mana suatu pengetahuan tidak mungkin bisa diperoleh kecuali dengannya.Lalu mereka menganggap bahwa dengan cara seperti itu mereka dapat mengetahui hal2 yang dekat dengan mereka,seperti masalah fisikal,perhitungan (matematik) dan akhlak.Mereka menjadikan tiga hal ini sebagai dasar yang diatasnya dibangun semua ilmu. Oleh karena itu,mereka merepresentasikan hal itu dalam dasar ilmu kalam (teologi atau ilmu ketuhanan ),bahwa satu adalah setengah dari dua,dan bahwa tubuh tidak mungkin berada pada dua tempat dan bahwa dua hal yang saling berlawanan seperti hitam dan putih-tidak mungkin bersatu.Banyak kalangan diantara mereka yang tidak menjadikan sifat adil dan iffah (menghindari dosa ) sebagai dasar (masalah pokok ) akan tetapi dianggap sebagai cabang yang membutuhkan dalil.

Dan banyak pula diantara penulis filsafat yang memulai tulisannya dengan mantiq (logika ),lalu disusul masalah fisik dan matematik,kemudian berpindah ke ilmu ilahi (ketuhanan).Kita bisa menemukan para penulis ilmu kalam memulai mukaddimahnya dengan membahas masalah teori,ilmu dan argumentasi.Hal itu adalah bagian dari mantiq,lalu berpindah pada kemunculan alam dan penetapan penciptanya.Di antara mereka ada yang berbagi ilmu kepada al maujud (yang ada) dan al ma'dum (tiada),beserta jenis2nya,sebagaimana yang dilakukan oleh para filosof diawal2 pembahasan ilmu ketuhanan.Sebagian besar filosof memekarkan masalah fisikal,lalu membahas masalah galaksi bintang dan seluk beluknya.Kemudian para filosof yang berketuhanan cenderung kepada pembahasan dzat,akal dan jiwa yang wajib ada.Diantara mereka ada yang menetapkan dzat yang wajib ada.

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh para teolog (orang-orang ahli kalam ),yang mengakui tauhid dalam buku2 teolog mereka adalah menetapkan ke-Esa-an Sang Khalik dan bhwa tiada sekutu bagi-Nya.Mereka menganggap bahwa inilah makna kalimat LAA ILAAHA ILLA ALLAH.

Inilah manhaj filsafat teologi yang menyibukkan para peneliti dan pengamat dalam berbagai masalah yang menghabiskan usia dan tak berujung.Bahkan hasil yang mereka capai hanya berkisar pada hal2 yang samar dan menghilangkan keyakinan,sehingga para peneliti itu mengalami keraguan dan kebingungan.

Adapun manhaj Al-Qur'an menjadikan pembuka dakwahnya dan dakwah seluruh Rasul adalah ajakan untuk beribadah hanya kepada ALLAH semata,sebagaimana firman ALLAH:>> (QS.Al-Anbiyaa : 25 ).***************Semoggah manfaat...Insyaallah nanti di sambung lagi.....Barakallahu fikum....Salam ukhuwah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami