Laman

Dompet Donasi Blog
Kumpulan Artikel Islami

No Rek : 046-10-45-234

A/N : Budi Darmawan

*******PENGERTIAN ISTAWA' (BERSEMAYAM) DI ATAS ARSY,MENURUT AL-QUR'AN DAN HADITS********

Written By Ummu Marwah on Minggu, 08 April 2012 | 10.57


oleh Ummu Marwah pada 15 November 2010










>> (QS.Al-Khafi: 1- 2 ).

Kita tidak mengetahui bagaimana ALLAH bersemayam di atas Arsy,karena kita tidak mengetahui dzat ALLAH tetapi kita mengetahui arti kata istawa' dalam bahasa Arab.

Orang Arab ketika menjadikan kata istwa' membutuhkan kata bantu 'alaa (di atas) mereka mengartikan kata istawa' dengan empat macam pengertian yaitu (istaqar) yang berarti menetap,(Ala) yang berarti di atas,(Irtafa) yang berarti tinggi dan (So'ad) yang berarti naik, sebagaimana hal itu telah ditetapkan oleh Ibnu Al Qayyim .... (Lihat Syarah Al Wasithyah, karangan Al Harras, hal 80.)

Abu Hasan Al Asy'ariy telah menukil dari golongan Mu'tazilah bahwa mereka menafsirkan kalimat (Istawa 'Ala Arsy ) dengan pengertian (Istawa Alahi ) yang berarti menguasai.... (Lihat Maqolaat Islamiyah,hal. 157 dan 211 ).

Jadi orang yang mena'wilkan kata Istawa ' dengan takwil seperti ini pendahulunya adalah golongan Mu'tazilah.

Padahal sejelek-jelek pendahulu adalah mereka. (orang2 Mu'tazilah )

Adapun Ahlus Sunnah dan Ahli Hadits mereka menetapkan bahwa ALLAH bersemayam di atas Arsy dan tidak menafikkannya dan juga tidak menggambarkan caranya : sebagaimana yang dinukil oleh Abul Hasan Al Asy'ari semoggah ALLAH merahmatinya dari mereka (kelompok Mu'tazilah)./maksudnya dari Abul Hasanlah yg menukil tentang kelompok Mu'tazilah ini.

Sementara itu,para ahli bahasa menyampaikan kepada kita bahwa para ahli Bahasa Arab yang memiliki fitrah dan belum terkena polusi kotornya filsafat yang baru datang,menolak menafsirkan kata (Istawa ) dengan pengertian (Istawla ) yang berarti menguasai. Dawud bin Ali Al Ashbahaniy berkata : Pernah suatu ketika saya bersama Ibnul Arabiy.Lalu seorang laki-laki datang dan bertanya : Apa makna firman ALLAH:

Ibnu Arabiy menjawab : " Dia berada di atas arsy-Nya,sebagaimana yang Dia sampaikan. " Lalu orang itu berkata : "Tidak wahai Abu Abdullah, tetapi maknanya adalah menguasai. "Ibnul Arabiy bertanya : " Tahu dari mana kamu,?.......(kemudian beliau menjelaskan):Orang Arab tidak mengatakan kata ' menguasai sesuatu' kecuali bila sesuatu itu memiliki lawan,maka bila salah satu di antara keduanya menang,maka dialah yang menguasai.

Tidakkah engkau mendengarkan ucapan An Nabighah : "Kecuali seperti dirimu atau orang yang telah engkau kalahkan,.Kuda itu telah dianggap menang bila berhasil menguasai (yang lain) hingga akhir waktu."..... (Dalam kitab Lisan Al Arab, 2/249 ). Manhaj ini,yaitu mengetahui makna kata istawa' dan tidak mengetahui caranya serta larangan mencari tauh tentang caranya adalah merupakan manhaj para salafus sholeh...( MANHAJ artinya: Jalan,metode,cara atau sekumpulan dasar-dasar atau prinsip yang dihimpun untuk mengatur dan mengendalikan pendapat dan jalan hidup,serta untuk menetapkan hukum dan mengambil sikap.)

Ketika Imam Malik ditanya tentang cara Istawa ' dalam firman ALLAH: >> (QS.Thaaha: 5 ) ,, Imam Malik tunduk dan berkeringat,kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata : "ALLAH Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy sebagaimana yang Dia sifati sendiri. Dan tidak ditanyakan bagaimana caranya,!....Bagaimana cara Dia bersemayam tidak diketahui dan Anda adalah ahli bid'ah...Keluarkan dia,!" (HR.Al Baihaqi dan ditashih oleh Adz Dzahabiy,hal 141,hadits no. 131 )

Dalam riwayat lain dari Imam Malik,beliau berkata: " Cara istawa ALLAH tidak terjangkau akal,makanya jelas dan dapat dipahami,mengimaninya adalah wajib dan mempertanyakan caranya adalah BID'AH." (Lihat Mukhtashar Al'Uluw,hal.141,adits no.132.)

Ucapan beliau "tidak majhul" artinya dapat dipahami dan diketahui,yang diketahui itu adalah maknanya.Karena kata ini dalam Bahasa Arab memiliki makna yang dipahami dan dimengerti oleh orang-orang Arab. Seorang alim dengan mudah dapat mengartikan dan menterjemahkannya.

Oleh karena itu,banyak diantara mereka yang meriwayatkan ucapan Imam Malik tersebut menukilnya berdasarkan maknanya.Maka kemudian mereka membantah perkataan orang itu dengan mengatakan : ' Istawa ' itu ma'lum (diketahui),bagaimana caranya majhul (tidak diketahui),mengimaninya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid'ah. Dan sebenarnya tidak ada perbedaan antara perkataan " Itsawa' itu ma'lum " dengan " Istawa ' itu tidak majhul, " jadi maknanya sama."... (Lihat dalam tafsir Al-Qurtybi,2/219.)

Al Qurtuby -rahimahullah- berkata: " Orang-orang salaf generasi pertama -semoggah ALLAH meridhai mereka-tidak menafikan arah dan tidak mengucapkannya.Tetapi mereka semua menetapkan arah (jihah) bagi ALLAH Ta'ala, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab-Nya dan disampaikan oleh Rasul-Rasul-Nya."

Tidak seorang pun di antara mereka mengingkari bahwa ALLAH bersemayam diatas arsy dengan sebenarnya.

ALLAH sengaja mengkhususkan arsy itu dengan bersemayam,karena arsy adalah makhluk-Nya yang terbesar,tetapi mereka tidak mengetahui cara-Nya bersemayam,karena hakikatnya tidak diketahui.

Imam Malik berkata : "Istawa' itu ma'lum (diketahui dari segi bahasa ),caranya majhul (tidak diketahui ) dan mempertanyakannya adalah bid'ah,demikian yang dikatakan oleh Ummu Salamah-semoggah ALLAH meridhainya- dan ini sudah merupakan ukuran yang mencukupi."...(Di jelaskan dalm kitab Tafsir Al qurtubi, 2/219.)****************WABILLAHI TAUFIK WAL HIDAYAH,WASSALAMU'ALAIKUM WA RROHMATULLAHI WA BAROKAATUH........Salam ukhuwah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Backlinks Otomatis Ummu Marwah

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Ummu Marwah dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Ummu Marwah dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya
Kumpulan Artikel Islami